Reporter: Diansyah | Editor: Buniyamin
NUNUKAN – Upaya mengungkap kekayaan keanekaragaman hayati di bentang alam Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) mendapat dukungan penuh dari masyarakat adat di wilayah Krayan.
Hal tersebut terlihat saat tim peneliti gabungan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Smithsonian Institution bersama petugas Resort Krayan melakukan sosialisasi penelitian di Desa Pa Raye, Kecamatan Krayan Timur, Kabupaten Nunukan.
Kegiatan sosialisasi yang menjadi tahapan awal penelitian tersebut disambut antusias oleh masyarakat, perangkat desa, hingga tokoh adat setempat.
Sosialisasi dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap masyarakat adat sekaligus untuk membangun kesepahaman sebelum tim peneliti melakukan observasi dan pengumpulan data di kawasan hutan sekitar Desa Pa Raye.
Penelitian yang akan berlangsung di lanskap TNKM ini diharapkan mampu menghasilkan data ilmiah penting mengenai kekayaan flora dan fauna yang selama ini menjadi bagian dari ekosistem hutan Kalimantan, khususnya di wilayah Krayan yang dikenal masih memiliki tutupan hutan alami yang relatif terjaga.
Camat Krayan Timur, Murjani mengatakan menyambut baik kehadiran para peneliti yang akan melakukan kajian ilmiah di wilayah tersebut.
Menurutnya, penelitian ini tidak hanya penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat lokal.
"Kami menerima dengan baik kegiatan penelitian ini. Harapannya, hasil dari penelitian yang dilakukan nantinya dapat disampaikan kembali kepada masyarakat. Dengan demikian, hasil penelitian tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran bagi masyarakat Krayan Timur, khususnya warga Desa Pa Raye," ujar Murjani.
Ia mengatakan keterbukaan akses informasi hasil penelitian menjadi hal yang penting agar masyarakat dapat memahami nilai ekologis kawasan yang mereka tempati sekaligus memperkuat kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Menurut Murjani, generasi muda di Krayan perlu memperoleh pengetahuan yang memadai mengenai kekayaan hayati yang dimiliki daerahnya. Oleh karena itu, hasil penelitian diharapkan tidak berhenti pada publikasi ilmiah semata, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi materi edukasi yang mudah dipahami masyarakat.
"Kami berharap hasil penelitian ini nantinya dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama dalam meningkatkan pemahaman generasi muda tentang pentingnya menjaga hutan dan keanekaragaman hayati yang ada di sekitar mereka," katanya.
Sementara itu, berdasarkan laporan lapangan, sejumlah persiapan teknis penelitian kini tengah dimatangkan. Kebutuhan perlengkapan dan logistik penelitian dijadwalkan segera tiba di Desa Pa Raye sebelum tim bergerak menuju lokasi-lokasi pengamatan di dalam kawasan hutan.
Kepala Balai TNKM Seno Pramudito mengatakan bahwa keterlibatan masyarakat adat dalam kegiatan penelitian dinilai menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan riset. Selain membantu memberikan informasi awal mengenai kondisi lapangan, masyarakat setempat juga memiliki pengetahuan tradisional yang selama ini diwariskan secara turun-temurun terkait lingkungan dan satwa yang hidup di kawasan tersebut.
"Kolaborasi antara peneliti, pengelola TNKM, pemerintah kecamatan, dan masyarakat adat diharapkan mampu menghasilkan data ilmiah yang tidak hanya memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi dasar penguatan upaya konservasi dan pengelolaan kawasan secara berkelanjutan," bebernya.
Melalui penelitian ini, Desa Pa Raye diharapkan dapat menjadi salah satu contoh bagaimana ilmu pengetahuan modern dan kearifan lokal berjalan beriringan dalam menjaga kelestarian hutan tropis Kalimantan yang menjadi rumah bagi berbagai spesies endemik bernilai penting bagi dunia.


