HSA dan YSEALI Dorong Link and Match Pendidikan dengan Industri Lewat Webinar Internasional

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Webinar internasional bertajuk Career Ready: Aligning Education with Industry Needs Through World-of-Work Partnerships. (Foto: Hetifah Scholarship Association).
Webinar internasional bertajuk Career Ready: Aligning Education with Industry Needs Through World-of-Work Partnerships. (Foto: Hetifah Scholarship Association).

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

HSA dan YSEALI Dorong Link and Match Pendidikan dengan Industri Lewat Webinar Internasional

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Webinar internasional bertajuk Career Ready: Aligning Education with Industry Needs Through World-of-Work Partnerships. (Foto: Hetifah Scholarship Association).
Webinar internasional bertajuk Career Ready: Aligning Education with Industry Needs Through World-of-Work Partnerships. (Foto: Hetifah Scholarship Association).

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

HSA dan YSEALI Dorong Link and Match Pendidikan dengan Industri Lewat Webinar Internasional

Webinar internasional bertajuk Career Ready: Aligning Education with Industry Needs Through World-of-Work Partnerships. (Foto: Hetifah Scholarship Association).

Reporter : Herdiansyah l Editor : Buniyamin 

SAMARINDA – Sinkronisasi antara dunia pendidikan tinggi dan industri dinilai menjadi kunci dalam menciptakan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesiapan menghadapi dinamika dunia kerja yang terus berkembang.

Isu tersebut menjadi fokus utama dalam webinar internasional bertajuk “Career Ready: Aligning Education with Industry Needs Through World-of-Work Partnerships” yang diselenggarakan melalui kolaborasi antara YSEALI Professional Fellows Program (PFP) Reciprocal Project dan Hetifah Scholarship Association (HSA).

Kegiatan yang digelar secara bilingual, menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, Dosen Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Diajeng Laili Hidayati, serta Director of Community and Government Relations Hamilton City Schools Amerika Serikat, Jennifer L. Oliver.

Webinar tersebut mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan. Mahasiswa, alumni, dosen, tenaga kependidikan hingga perwakilan kampus dan lembaga pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi selama sesi diskusi dan tanya jawab. Berbagai isu terkait kesiapan kerja lulusan, pengembangan kompetensi, hingga penguatan kemitraan antara perguruan tinggi dan dunia industri menjadi topik yang banyak mendapat perhatian.

Ketua Hetifah Scholarship Association (HSA), Tiara Oktaviani Aras, mengapresiasi terselenggaranya webinar tersebut. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor yang menghadirkan perspektif nasional maupun internasional sangat penting dalam memperkuat kapasitas generasi muda Indonesia.

Tiara juga mengajak perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, lembaga pendidikan, serta berbagai mitra strategis untuk terlibat dalam program-program pengembangan kapasitas yang diinisiasi HSA.

Ketua HSA yang akan segera mengakhiri masa baktinya, Olli Chandra menekankan pentingnya pendampingan mahasiswa dan alumni agar lebih siap memasuki dunia profesional.

Menurut Olli, proses pengembangan kapasitas tidak cukup hanya melalui pendidikan akademik di kampus. Diperlukan berbagai program pendukung seperti pelatihan keterampilan, mentoring, sertifikasi kompetensi, hingga perluasan jejaring dengan dunia industri.

“Melalui program ini, HSA berkomitmen untuk melaksanakan berbagai program guna memberikan bekal kepada mahasiswa dan alumni dengan kompetensi serta kesiapan yang dibutuhkan di dunia kerja profesional. Selain itu, kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi, khususnya dalam meningkatkan daya saing lulusan agar dapat terserap di dunia kerja atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi setelah lulus,” kata Olli.

Sementara Hetifah Sjaifudian menyoroti pentingnya pemerataan pembangunan sumber daya manusia di seluruh wilayah Indonesia. Menurutnya, pembangunan SDM tidak boleh lagi berfokus pada satu kawasan tertentu.

“Kita tidak bisa lagi melihat pembangunan sumber daya manusia dengan kacamata yang Jawa-sentris. Indonesia Emas tidak akan tercapai kalau jembatan industri ini hanya kokoh di satu pulau. Wilayah seperti Kalimantan memiliki karakteristik industri yang spesifik mulai dari energi, logistik, hingga transformasi menuju green economy. Institusi pendidikan lokal harus didorong untuk mendesain kurikulum yang responsif terhadap kebutuhan tersebut,” tegas Hetifah.

Ia menambahkan, kemitraan antara dunia pendidikan dan industri harus mampu menghasilkan dampak nyata bagi mahasiswa dan masyarakat.

Kerja sama tersebut, menurutnya, tidak boleh berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman atau kerja sama administratif semata, melainkan harus diwujudkan dalam program-program yang memberikan manfaat langsung bagi peningkatan kualitas lulusan.

Melalui webinar ini, HSA dan YSEALI berharap dapat mendorong lahirnya kolaborasi yang lebih kuat antara perguruan tinggi dan dunia industri, sehingga lulusan Indonesia memiliki kompetensi yang relevan dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.