Kutim Kaya Lahan, Kekurangan Peternak Jadi Tantangan Pengembangan Sektor Peternakan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Suasana seminar pangan yang dilaksanakan Program Studi Peternakan Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur. (Foto: Dok.Prokopim Kutim)
Suasana seminar pangan yang dilaksanakan Program Studi Peternakan Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur. (Foto: Dok.Prokopim Kutim)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kutim Kaya Lahan, Kekurangan Peternak Jadi Tantangan Pengembangan Sektor Peternakan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Suasana seminar pangan yang dilaksanakan Program Studi Peternakan Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur. (Foto: Dok.Prokopim Kutim)
Suasana seminar pangan yang dilaksanakan Program Studi Peternakan Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur. (Foto: Dok.Prokopim Kutim)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kutim Kaya Lahan, Kekurangan Peternak Jadi Tantangan Pengembangan Sektor Peternakan

Suasana seminar pangan yang dilaksanakan Program Studi Peternakan Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur. (Foto: Dok.Prokopim Kutim)

Reporter: Siswandi | Editor: Buniyamin 

SANGATTA – Di tengah besarnya potensi lahan dan tingginya kontribusi produksi pangan hewani, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih menghadapi persoalan mendasar dalam pengembangan sektor peternakan, yakni minimnya jumlah peternak yang terlibat secara aktif.

Persoalan tersebut mengemuka dalam Talkshow Peternakan bertajuk “Kutim Kaya Lahan, Miskin Peternak” yang digelar Program Studi Peternakan STIPER Kutim di Ruang Meranti Kantor Bupati Kutim, Selasa (2/6/2026).

Ketua STIPER Kutim, Ismail Fahmy Almadi menilai tantangan pembangunan peternakan daerah saat ini bukan lagi terletak pada ketersediaan lahan, melainkan pada keterbatasan sumber daya manusia yang menekuni sektor tersebut.

“Berdasarkan berbagai hasil kajian dan data yang ada, tantangan terbesar kita bukan lahan. Lahan tersedia cukup luas, tetapi jumlah peternak yang terlibat masih relatif sedikit,” ujarnya.

Menurut Ismail, kondisi tersebut menjadi ironi di tengah capaian sektor peternakan Kutim yang dinilai cukup menjanjikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Kutim tercatat memiliki populasi sapi sekitar 15 ribu ekor dan menempati posisi ketiga terbesar di Kalimantan Timur (Kaltim).

Selain itu, produksi ayam dan telur di daerah ini juga menunjukkan angka yang signifikan dengan capaian mencapai sekitar satu juta ekor dan butir.

“Data ini menunjukkan bahwa Kutim memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap pemenuhan kebutuhan pangan hewani di Kaltim,” katanya.

Ismail menjelaskan, keberhasilan sektor peternakan tidak hanya diukur dari jumlah produksi, tetapi juga dari kemampuannya mendukung kemandirian pangan daerah. 

Untuk mewujudkan hal tersebut, menurutnya terdapat tiga aspek yang harus dipenuhi, yakni ketersediaan pangan, keterjangkauan harga, dan keamanan konsumsi.

Ia menilai berbagai program pembangunan yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Kutim telah memberikan dukungan terhadap upaya penguatan sektor pangan, termasuk pertanian dan peternakan.

Dalam kesempatan itu, Ismail juga menyinggung kondisi ketenagakerjaan di Kutim yang mengalami dinamika dalam beberapa tahun terakhir. 

Di tengah banyaknya pekerja yang terdampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), sektor pertanian justru menunjukkan tren peningkatan penyerapan tenaga kerja.

Berdasarkan data yang dipaparkan, sektor pertanian mengalami pertumbuhan penyerapan tenaga kerja sekitar 13 persen dalam setahun terakhir.

Meski demikian, lapangan pekerjaan terbesar di Kutim saat ini masih didominasi sektor jasa, termasuk layanan transportasi dan distribusi barang.

Melihat kondisi tersebut, STIPER Kutim menilai sektor pertanian dan peternakan memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai salah satu penopang ekonomi daerah sekaligus sumber lapangan kerja baru bagi masyarakat.

Karena itu, diperlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha hingga masyarakat untuk mendorong lahirnya lebih banyak peternak dan pelaku usaha di sektor hulu.

“Potensi yang dimiliki Kutai Timur sangat besar. Tantangannya sekarang adalah bagaimana memperkuat SDM dan membangun kolaborasi agar sektor pertanian dan peternakan dapat berkembang lebih maju dan berkelanjutan,” pungkasnya.