Reporter: Diansyah | Editor: Bambang Irawan
NUNUKAN – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan mencatat tingkat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) pada Mei 2026 sebesar 2,03 persen. Angka tersebut menunjukkan adanya kenaikan harga barang dan jasa secara umum dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala BPS Kabupaten Nunukan, Iskandar Ahmadien, menjelaskan bahwa inflasi tahunan tersebut tercermin dari meningkatnya Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,89 pada Mei 2025 menjadi 111,10 pada Mei 2026.
“Secara tahunan, Kabupaten Nunukan mengalami inflasi sebesar 2,03 persen dengan IHK sebesar 111,10. Kenaikan ini dipengaruhi oleh meningkatnya harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran yang menjadi komponen penyusun inflasi,” ujar Iskandar.
Menurutnya, kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya menjadi kelompok pengeluaran dengan kenaikan tertinggi, yakni mencapai 7,79 persen. Disusul kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran yang mengalami kenaikan sebesar lima persen serta kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga sebesar 2,53 persen.
Selain itu, sejumlah kelompok pengeluaran lainnya juga mengalami peningkatan indeks. Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau tercatat naik 1,56 persen, Transportasi 1,09 persen, Perlengkapan, Peralatan dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga 0,95 persen, serta Kesehatan sebesar 0,56 persen.
“Dari sebelas kelompok pengeluaran yang diamati, hampir seluruhnya mengalami kenaikan indeks. Hanya kelompok pendidikan yang mengalami deflasi atau penurunan indeks sebesar 0,03 persen,” jelasnya.
BPS juga mencatat bahwa emas perhiasan masih menjadi komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan di Kabupaten Nunukan. Komoditas tersebut menyumbang inflasi sebesar 0,38 persen.
Selain emas perhiasan, sejumlah komoditas kebutuhan masyarakat lainnya turut menjadi pendorong inflasi, di antaranya beras dengan andil 0,29 persen, nasi dengan lauk 0,24 persen, serta tomat sebesar 0,23 persen.
“Kenaikan harga emas perhiasan masih menjadi faktor utama yang memengaruhi inflasi tahunan. Di sisi lain, beberapa komoditas pangan dan jasa seperti beras, nasi dengan lauk, tomat, daging ayam ras, sigaret kretek mesin, hingga kontrak rumah juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan inflasi,” kata Iskandar.
Meski demikian, kondisi harga pada Mei 2026 menunjukkan perkembangan yang berbeda jika dibandingkan bulan sebelumnya. BPS mencatat Kabupaten Nunukan mengalami deflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,03 persen.
Menurut Iskandar, deflasi tersebut mengindikasikan adanya penurunan harga pada sejumlah komoditas tertentu yang mampu menahan laju kenaikan harga secara keseluruhan.
“Secara bulanan terjadi deflasi sebesar 0,03 persen. Salah satu komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap deflasi bulanan adalah beras. Penurunan harga beras cukup membantu meredam tekanan inflasi yang berasal dari komoditas lainnya,” ujarnya.
Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) atau sejak Januari hingga Mei 2026 tercatat sebesar 1,61 persen.
Lebih lanjut, Iskandar mengungkapkan bahwa kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau masih menjadi kelompok yang memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi tahunan dengan andil mencapai 0,62 persen. Kontribusi tersebut terutama berasal dari subkelompok rokok dan tembakau yang mengalami kenaikan 2,42 persen serta subkelompok makanan sebesar 1,51 persen.
Selain itu, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan, rekreasi, olahraga dan budaya, serta pakaian dan alas kaki juga mengalami kenaikan meskipun dengan kontribusi yang relatif kecil terhadap pembentukan inflasi.
“Pergerakan harga di Kabupaten Nunukan masih berada dalam kondisi yang terkendali. Namun, sejumlah komoditas strategis tetap perlu menjadi perhatian karena memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan inflasi daerah,” pungkasnya.


