Distribusi BBM dan Sembako ke Krayan Selatan Tersendat, Perjalanan Dua Jam Jadi Sepekan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Warga yang harus berjibaku dengan kondisi jalan yang rusak parah dan berlumpur sepanjang ruas penghubung Desa Long Bawan ke Kecamatan Krayan Selatan (Foto: Oktavianus Ramli)
Warga yang harus berjibaku dengan kondisi jalan yang rusak parah dan berlumpur sepanjang ruas penghubung Desa Long Bawan ke Kecamatan Krayan Selatan (Foto: Oktavianus Ramli)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Distribusi BBM dan Sembako ke Krayan Selatan Tersendat, Perjalanan Dua Jam Jadi Sepekan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Warga yang harus berjibaku dengan kondisi jalan yang rusak parah dan berlumpur sepanjang ruas penghubung Desa Long Bawan ke Kecamatan Krayan Selatan (Foto: Oktavianus Ramli)
Warga yang harus berjibaku dengan kondisi jalan yang rusak parah dan berlumpur sepanjang ruas penghubung Desa Long Bawan ke Kecamatan Krayan Selatan (Foto: Oktavianus Ramli)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Distribusi BBM dan Sembako ke Krayan Selatan Tersendat, Perjalanan Dua Jam Jadi Sepekan

Warga yang harus berjibaku dengan kondisi jalan yang rusak parah dan berlumpur sepanjang ruas penghubung Desa Long Bawan ke Kecamatan Krayan Selatan (Foto: Oktavianus Ramli)

Reporter: Diansyah | Editor: Buniyamin

NUNUKAN – Kondisi infrastruktur jalan dan jembatan di wilayah pedalaman Kabupaten Nunukan kembali menjadi sorotan.

Kerusakan parah pada akses penghubung antara Desa Long Bawan, Kecamatan Krayan dan Kecamatan Krayan Selatan menyebabkan mobilitas orang maupun distribusi barang mengalami hambatan serius.

Perjalanan yang dalam kondisi normal dapat ditempuh dalam waktu sekitar satu hingga dua jam, kini harus dilalui selama berhari-hari akibat banyaknya titik kerusakan di sepanjang jalur tersebut.

Camat Krayan Selatan, Oktavianus Ramli mengatakan meski wilayahnya telah mengalami cuaca cerah selama sekitar satu pekan terakhir, kondisi tersebut belum cukup untuk memulihkan akses transportasi darat yang rusak.

Menurutnya, sejumlah ruas jalan mengalami kerusakan berat, beberapa jembatan ambruk, serta terdapat titik-titik longsor yang menghambat kendaraan untuk melintas.

“Kerusakan jalan masih cukup parah. Selain itu, ada beberapa jembatan yang ambruk dan sejumlah lokasi longsor sehingga kendaraan sangat sulit melewati jalur tersebut,” kata Oktavianus, Rabu (3/6/2026).

Dampak kerusakan infrastruktur itu terlihat pada distribusi kebutuhan masyarakat dari Long Bawan menuju Krayan Selatan.

Baru-baru ini, dua kendaraan yang mengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk pembangkit listrik serta kebutuhan pokok masyarakat harus menempuh perjalanan selama tujuh hari.

Oktavianus menjelaskan, kedua kendaraan tersebut berangkat dari Long Bawan menuju Long Layu pada 26 Mei 2026. Tapi karena beratnya medan yang harus dilalui, kendaraan baru tiba di tujuan pada Senin (1/6/2026) sore.

“Dua mobil yang membawa BBM untuk PLN dan sembako bagi masyarakat Krayan Selatan baru tiba setelah menempuh perjalanan selama tujuh hari,” ujarnya.

Ia menegaskan, keterlambatan distribusi BBM menjadi persoalan yang sangat mendesak karena berkaitan langsung dengan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang melayani masyarakat Krayan Selatan.

Saat ini, stok BBM untuk dua unit PLTD di wilayah tersebut disebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional dalam beberapa hari ke depan. Apabila pasokan kembali mengalami keterlambatan, layanan kelistrikan berpotensi terganggu.

Menurut Oktavianus, dampak gangguan listrik tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga akan memengaruhi aktivitas ekonomi dan layanan telekomunikasi.

“Jika PLN tidak dapat beroperasi karena kehabisan BBM, aktivitas usaha masyarakat akan terganggu. Selain itu, jaringan telekomunikasi juga berpotensi tidak berfungsi karena menara telekomunikasi bergantung pada pasokan listrik,” jelasnya.

Tidak hanya BBM, distribusi bahan kebutuhan pokok masyarakat juga ikut terdampak. Kendaraan pengangkut logistik harus berjibaku dengan kondisi jalan yang rusak sehingga waktu perjalanan menjadi jauh lebih lama dibandingkan kondisi normal.

Pihaknya berharap ada keseriusan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara dapat segera melakukan penanganan terhadap ruas jalan dan jembatan yang rusak.

Perbaikan infrastruktur dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk menjamin kelancaran distribusi logistik, pasokan BBM, serta aktivitas masyarakat di wilayah perbatasan tersebut.

“Perbaikan jalan dan jembatan sangat diperlukan agar distribusi kebutuhan masyarakat dapat berjalan lancar dan tidak terus mengalami hambatan,” pungkasnya.