Banner ADV

Anyaman dan Manik Berau Punya Peluang Besar, Diskoperindag Fokus Pembinaan Perajin

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Hasil kerajinan anyaman rotan di Kabupaten Berau. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Hasil kerajinan anyaman rotan di Kabupaten Berau. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Anyaman dan Manik Berau Punya Peluang Besar, Diskoperindag Fokus Pembinaan Perajin

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Hasil kerajinan anyaman rotan di Kabupaten Berau. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Hasil kerajinan anyaman rotan di Kabupaten Berau. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Anyaman dan Manik Berau Punya Peluang Besar, Diskoperindag Fokus Pembinaan Perajin 

Hasil kerajinan anyaman rotan di Kabupaten Berau. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin

TANJUNG REDEB – Kerajinan anyaman dan manik khas Berau terus didorong menjadi produk unggulan yang mampu memperkuat sektor pariwisata sekaligus mendongkrak ekonomi kreatif masyarakat. 

Upaya tersebut kini menjadi salah satu fokus Pemerintah Kabupaten Berau melalui pembinaan yang dilakukan Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau.

Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita, menilai potensi kerajinan lokal masih sangat besar untuk dikembangkan.

Menurutnya, anyaman dan manik bukan sekadar produk kerajinan tangan, melainkan bagian dari identitas budaya daerah yang memiliki nilai jual tinggi apabila dikemas sesuai kebutuhan pasar.

Ia mengatakan tantangan saat ini bukan hanya menjaga keberlangsungan kerajinan tradisional, tetapi juga menghadirkan inovasi agar produk yang dihasilkan mampu menarik minat wisatawan maupun konsumen dari luar daerah.

“Kerajinan anyaman dan manik merupakan warisan budaya yang harus kita angkat. Ini bisa menjadi identitas khas Berau yang mampu menarik minat wisatawan,” ujarnya.

Untuk mendukung hal tersebut, Diskoperindag secara rutin memberikan pelatihan kepada pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM). Pembinaan yang dilakukan meliputi peningkatan kualitas produksi, pengembangan desain, hingga pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana pemasaran.

Eva menjelaskan, perkembangan tren pasar menjadi salah satu hal yang harus dipahami para perajin. Produk kerajinan tidak lagi hanya berbentuk barang tradisional, tetapi dapat dikreasikan menjadi berbagai kebutuhan modern seperti aksesoris, dekorasi rumah, souvenir eksklusif hingga produk fesyen yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Selain peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemerintah daerah juga membuka akses promosi yang lebih luas bagi para perajin. Salah satunya melalui keikutsertaan dalam berbagai pameran tingkat provinsi maupun nasional untuk memperkenalkan produk khas Berau kepada pasar yang lebih besar.

Menurutnya, promosi yang berkelanjutan menjadi langkah penting untuk memperluas jaringan pemasaran sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di tengah banyaknya kerajinan dari daerah lain.

Meski mendorong inovasi, Eva menegaskan bahwa unsur budaya yang menjadi ciri khas anyaman dan manik Berau tetap harus dipertahankan. Keunikan motif, teknik pembuatan, serta nilai kearifan lokal justru menjadi kekuatan utama yang membedakan produk Berau dari daerah lain.

Ia optimistis, melalui kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha, kerajinan anyaman dan manik dapat berkembang menjadi ikon souvenir khas Berau yang selalu dicari wisatawan ketika berkunjung ke Bumi Batiwakkal.

“Kami ingin produk anyaman dan manik Berau bisa bersaing dengan kerajinan daerah lain. Dengan pembinaan yang tepat, kami yakin para perajin bisa naik kelas,” tegasnya. (Adv)