Stok Sapi BX dari Jabar Terbatas, Breeding Farm Kutim di Rantau Pulung Masih Tertunda

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi. (Foto:Siswandi/Pusaranmedia.com)
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi. (Foto:Siswandi/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Stok Sapi BX dari Jabar Terbatas, Breeding Farm Kutim di Rantau Pulung Masih Tertunda

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi. (Foto:Siswandi/Pusaranmedia.com)
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi. (Foto:Siswandi/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Stok Sapi BX dari Jabar Terbatas, Breeding Farm Kutim di Rantau Pulung Masih Tertunda

Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi. (Foto:Siswandi/Pusaranmedia.com)

Reporter : Siswandi | Editor : Buniyamin 

SANGATTA – Rencana Pemkab Kutai Timur (Kuti) membangun pusat pembibitan sapi atau breeding farm di Kecamatan Rantau Pulung masih sebatas wacana. 

Dua persoalan mendasar menghambat, anggaran daerah yang terbatas dan minimnya tenaga ahli yang mampu mengelola peternakan skala pembibitan.

Gagasan itu muncul setelah Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi melakukan studi banding ke Malang, Jawa Timur (Jatim).

Ia melihat pengembangan sapi BX asal Jawa Barat yang dinilai potensial dikembangkan di Kaltim. Tapi pasokan sapi BX dari Jawa Barat tidak mencukupi kebutuhan. Jarak distribusi yang jauh ke Kalimantan Timur (Kaltim) juga menjadi kendala logistik. 

“Kalau kita ambil juga di Jawa Barat, sapi BX-nya masih kurang dipenuhi. Yang kedua ada batas jangkauan distribusi sapi dari Jawa Barat ke sini,” kata Mahyunadi, Rabu (4/6/2026).

Bersama Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Kutim, Pemkab kemudian melirik lahan seluas sekitar enam Hektare di Rantau Pulung sebagai lokasi breeding farm.

Tapi rencana itu mentok pada persoalan keuangan daerah. Mahyunadi menyebut kondisi anggaran Kutim belum memungkinkan. “Kendala yang pertama karena memang turbulensi anggaran kita kemarin agak berat,” ujarnya.

Kendala kedua, Pemkab belum memiliki SDM yang berpengalaman mengelola breeding farm. Upaya studi banding ke sejumlah peternakan resmi juga belum membuahkan hasil. 

“Yang kedua kita belum punya ahlinya. Gimana kita cari ahlinya? Secara resmi pun kami menyurat kepada beberapa farm untuk studi banding, tetapi belum ada yang menerima,” katanya.

Untuk mengatasi kekurangan tenaga ahli, Mahyunadi berharap perguruan tinggi vokasi seperti STIPER bisa turun tangan. 

Perannya tidak hanya mengembangkan sektor peternakan, tapi juga menyiapkan lulusan yang siap mengelola pembibitan sapi.

“Kalau bisa peran STIPER ini yang mengembangkan. Kalau kami enggak bisa, minimal mahasiswa kita yang kita mantapkan di sana,” ucapnya.