Reporter: Diansyah | Editor: Buniyamin
NUNUKAN – Kabupaten Nunukan mengalami deflasi sebesar 0,03 persen secara bulanan (month-to-month/m-to-m) pada Mei 2026.
Penurunan harga beras menjadi faktor dominan yang mendorong terjadinya deflasi sekaligus menahan laju kenaikan harga sejumlah komoditas lainnya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan, Iskandar Ahmaddien, menjelaskan bahwa deflasi yang terjadi menunjukkan adanya penurunan rata-rata harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat dibandingkan bulan sebelumnya.
“Pada Mei 2026, Kabupaten Nunukan mencatat deflasi sebesar 0,03 persen dibandingkan April 2026. Kondisi ini mengindikasikan adanya penurunan harga pada beberapa komoditas yang berpengaruh terhadap pembentukan indeks harga konsumen,” ujar Iskandar, Jumat (5/6/2026).
Menurutnya, komoditas beras memberikan andil terbesar terhadap terbentuknya deflasi bulanan tersebut.
Penurunan harga beras dinilai cukup signifikan dalam meredam tekanan inflasi yang berasal dari komoditas lain yang justru mengalami kenaikan harga.
Iskandar mengatakan, sebagai bahan pangan utama masyarakat, perubahan harga beras memiliki dampak besar terhadap tingkat inflasi maupun deflasi daerah.
“Beras merupakan komoditas dengan porsi pengeluaran yang cukup besar dalam rumah tangga. Ketika harganya mengalami penurunan atau tetap stabil, dampaknya sangat terasa dalam menjaga kestabilan inflasi,” katanya.
Kendati demikian, BPS mencatat bahwa secara kumulatif sepanjang tahun berjalan atau year-to-date (y-to-d), Kabupaten Nunukan masih mengalami inflasi sebesar 1,61 persen hingga Mei 2026.
Angka tersebut menunjukkan bahwa secara keseluruhan harga barang dan jasa masih mengalami kenaikan dibandingkan kondisi pada awal tahun.
Iskandar menegaskan bahwa deflasi yang terjadi pada Mei tidak dapat diartikan sebagai penurunan harga seluruh komoditas. Sebab, masih terdapat sejumlah barang dan jasa yang mengalami kenaikan harga selama periode tersebut.
“Deflasi merupakan hasil perhitungan secara agregat. Artinya, ada komoditas yang mengalami penurunan harga dan ada pula yang naik. Namun, secara keseluruhan pergerakan harga pada Mei menghasilkan deflasi sebesar 0,03 persen,” jelasnya.
Lebih lanjut, BPS menilai stabilitas harga di daerah sangat dipengaruhi oleh ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi barang, terutama komoditas pangan. Karena itu, upaya menjaga stok kebutuhan pokok dan memastikan distribusi berjalan lancar perlu terus dilakukan oleh seluruh pemangku kepentingan.
“Pasokan yang memadai dan distribusi yang lancar menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas harga. Dengan kondisi tersebut, daya beli masyarakat juga dapat tetap terjaga,” pungkasnya.


