Reporter: Siswandi | Editor: Buniyamin
SANGATTA – Perayaan syukuran panen padi gunung melalui tradisi Bengen Lepeng Majau 2026 di Dusun Budaya Rindang Benua, Kecamatan Sangatta Selatan, Kutai Timur (Kutim) menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan berbagai persoalan pembangunan yang hingga kini belum terselesaikan.
Keterbatasan akses air bersih, kondisi infrastruktur lingkungan hingga kebutuhan fasilitas pendukung pertanian menjadi isu utama yang mengemuka di tengah perayaan adat tersebut.
Tradisi tahunan masyarakat Dayak itu dihadiri Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, tokoh adat, tokoh masyarakat, perwakilan perusahaan dan ratusan warga setempat.
Ketua Adat Rindang Benua, Jating Lahang mengatakan masyarakat masih menghadapi sejumlah persoalan mendasar yang berdampak langsung terhadap kualitas hidup warga.
Salah satunya adalah belum tersedianya layanan air bersih yang memadai.
Menurutnya, sebagian besar warga masih mengandalkan air sumur, air hujan dan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut dinilai tidak sejalan dengan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Selain persoalan air bersih, warga juga berharap adanya peningkatan infrastruktur lingkungan berupa semenisasi jalan dan gang, serta pembangunan jembatan permanen menggantikan jembatan kayu yang sudah mengalami kerusakan.
"Kami bersyukur hasil panen tahun ini cukup baik. Tapi di sisi lain masih banyak kebutuhan masyarakat yang perlu mendapat perhatian, mulai dari air bersih, jalan lingkungan, jembatan hingga kebutuhan petani," kata Jating Lahang.
Ia menambahkan, sektor pertanian masih menjadi tumpuan utama perekonomian masyarakat setempat.
Untuk itu, kelompok tani juga berharap adanya bantuan pupuk serta pembangunan jalan usaha tani untuk mempermudah distribusi hasil pertanian dan perkebunan.
Selain infrastruktur dasar, masyarakat juga mengusulkan pembangunan Balai Adat dan Balai Budaya sebagai sarana pelestarian budaya Dayak sekaligus pusat kegiatan sosial masyarakat.
Menurut Jating, keberadaan fasilitas tersebut penting untuk menjaga identitas budaya masyarakat di tengah perkembangan wilayah yang semakin pesat.
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi menilai berbagai aspirasi yang disampaikan masyarakat menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah.
Ia mengakui kebutuhan infrastruktur dasar seperti air bersih, jalan dan fasilitas pendukung pertanian masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah pedesaan, termasuk di Rindang Benua.
"Apa yang disampaikan masyarakat tentu menjadi perhatian pemerintah. Infrastruktur dasar, fasilitas pertanian hingga pengembangan potensi budaya akan menjadi bagian dari evaluasi dan perencanaan pembangunan daerah," ujar Mahyunadi.
Menurutnya, Rindang Benua memiliki potensi budaya yang dapat dikembangkan menjadi salah satu destinasi wisata berbasis budaya di Kutim.
Untuk itu, pelestarian tradisi seperti Bengen Lepeng Majau perlu terus didorong agar tidak hilang di tengah perubahan zaman.
Di tengah keberhasilan masyarakat menyelesaikan musim panen tahun ini, berbagai usulan pembangunan yang kembali mengemuka menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah dan para pemangku kepentingan.
Bagi warga Rindang Benua, keberhasilan panen tidak hanya diukur dari hasil yang diperoleh, tetapi juga dari hadirnya pembangunan yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.


