Logo
Pusaran Dewan Pers
Iklan

Gempa M7,7 Filipina, BMKG Pastikan Tak Berdampak Signifikan ke Balikpapan

Situasi kawasan pesisir belakang Pasar Klandasan Balikpapan, Senin (8/6/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

BERITA TERKAIT

    Video

    Gempa M7,7 Filipina, BMKG Pastikan Tak Berdampak Signifikan ke Balikpapan

    PusaranMedia.com

    Situasi kawasan pesisir belakang Pasar Klandasan Balikpapan, Senin (8/6/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

    Gempa M7,7 Filipina, BMKG Pastikan Tak Berdampak Signifikan ke Balikpapan

    Situasi kawasan pesisir belakang Pasar Klandasan Balikpapan, Senin (8/6/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

    Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin

    BALIKPAPAN - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan Kota Balikpapan aman dari ancaman tsunami akibat gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Pantai Selatan Mindanao, Filipina, Senin (8/6/2026) pagi tadi.

    Meski getaran gempa terdeteksi terasa hingga sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Utara (Kaltara), tapi kondisi di pesisir Balikpapan terpantau normal. 

    Aktivitas masyarakat di kawasan pantai tetap berjalan seperti biasa tanpa adanya tanda-tanda kenaikan muka air laut yang membahayakan.

    Kepala Stasiun Geofisika BMKG Balikpapan, Rasmid mengatakan gempa yang terjadi di Filipina tidak memberikan dampak signifikan terhadap wilayah Balikpapan.

    "Kalau berdasarkan kejadian tadi pagi memang aktivitas gempanya tidak terlalu signifikan di Balikpapan. Tapi potensi tsunami tetap perlu diwaspadai karena sumber ancamannya bisa berasal dari luar wilayah, terutama dari arah Selat Makassar maupun Pulau Sulawesi berdasarkan catatan sejarah," kata Rasmid.

    Ia mengatakan catatan tsunami yang pernah berdampak ke Balikpapan umumnya dipicu gempa di wilayah Selat Makassar, khususnya sekitar Mamuju, Sulawesi Barat.

    Menurutnya, beberapa kejadian gempa di wilayah tersebut pernah memicu longsoran bawah laut yang menyebabkan kenaikan muka air laut hingga mencapai pesisir Balikpapan.

    "Kalau di Balikpapan biasanya sumbernya dari Selat Makassar, daerah Mamuju. Pernah beberapa kali gempa yang menyebabkan longsoran bawah laut sehingga mengakibatkan kenaikan air laut. Dampaknya sampai ke pantai Balikpapan, tetapi tingginya tidak terlalu signifikan, di bawah satu meter. Itu pernah terjadi beberapa kali, terakhir sekitar tahun 2022," ujarnya.

    Pantauan media ini di kawasan pesisir belakang Gedung DPRD dan Pasar Klandasan menunjukkan kondisi laut relatif tenang. Ombak kecil terlihat berdesir seperti biasanya dan tidak ada perubahan mencolok sejak pagi hari.

    Salah seorang penjaga kios di Pasar Klandasan, Roni mengaku tidak merasakan dampak apa pun dari gempa yang terjadi di Filipina. "Seperti biasa saja, tidak ada masalah. Dari dulu juga aman-aman saja dan terpenting tetap cari aman," katanya.

    Sebelumnya, gempa bumi Magnitudo 7,7 yang berpusat di Pantai Selatan Mindanao, Filipina, sempat memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah Indonesia bagian timur.

    Berdasarkan analisis BMKG, episenter gempa berada di laut pada koordinat 5,80 derajat Lintang Utara dan 125,14 derajat Bujur Timur dengan kedalaman 47 kilometer. Gempa dipicu aktivitas subduksi lempeng dengan mekanisme sesar naik (thrust fault).

    Getaran gempa dilaporkan terasa di sejumlah wilayah Kalimantan Utara dan Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Namun hingga saat ini BMKG memastikan tidak ada laporan kerusakan maupun korban jiwa akibat peristiwa tersebut.

    Di media sosial dan grup WhatsApp Info Gempabumi Kalimantan, beredar sejumlah video yang memperlihatkan situasi di daerah terdampak. 

    Di Filipina, rekaman menunjukkan siswa di Mahayahay Elementary School berhamburan keluar ruangan saat gempa terjadi. 

    Sementara di Tarakan, sejumlah warga pesisir terlihat meninggalkan rumah mereka untuk mencari lokasi yang lebih aman setelah peringatan tsunami dikeluarkan.

    Meski demikian, BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. 

    Warga diminta terus memantau informasi resmi dari BMKG dan mengikuti arahan petugas apabila terjadi perkembangan situasi di lapangan.