Kakak Calon Siswa Keluhkan Perlakuan tak Menyenangkan saat PPDB di SMPN 5 Bontang

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Ilustrasi Siswa SMP. (Foto: Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)
Ilustrasi Siswa SMP. (Foto: Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kakak Calon Siswa Keluhkan Perlakuan tak Menyenangkan saat PPDB di SMPN 5 Bontang

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Ilustrasi Siswa SMP. (Foto: Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)
Ilustrasi Siswa SMP. (Foto: Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kakak Calon Siswa Keluhkan Perlakuan tak Menyenangkan saat PPDB di SMPN 5 Bontang

Ilustrasi Siswa SMP. (Foto: Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Reporter: Lutfi Aziz | Editor: Bambang Irawan

BONTANG – Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di salah satu sekolah menengah pertama di Kota Bontang menuai keluhan dari wali calon siswa. Seorang warga bernama Narty Lestari mengaku merasa dipermalukan saat mendampingi adiknya mendaftar melalui jalur reguler non-akademik.

Peristiwa itu terjadi ketika Narty datang ke sekolah untuk mendaftarkan adiknya dengan membawa sejumlah dokumen prestasi yang dimiliki calon siswa, yakni piagam penghargaan Juara III tingkat Provinsi Kalimantan Timur.

Menurut Narty, proses pendaftaran awal berjalan sebagaimana mestinya. Ia mengambil formulir, mengisi data, kemudian menunggu proses verifikasi berkas oleh panitia.

"Awalnya berjalan baik-baik saja. Dan berdasarkan informasi yang saya dapat melalui laman pendaftaran bahwa jalur reguler non-akademik menyediakan kuota sebanyak 22 siswa," ujarnya kepada Pusaranmedia.com, Selasa (9/6/2026).

Namun saat tiba di lokasi pendaftaran, panitia sempat menyampaikan bahwa peserta jalur non-akademik diminta kembali keesokan harinya karena belum ada kepastian terkait persyaratan khusus untuk jalur tersebut.

"Saya sudah bersiap pulang, tetapi kemudian dipanggil kembali dan diminta menunggu untuk bertemu langsung dengan kepala sekolah," ujar Narty.

Saat bertemu dengan Kepala SMPN 5 Bontang, Muhiddin di ruang penginputan data, Narty mengaku menyerahkan seluruh dokumen yang dibawanya untuk diperiksa. Dalam proses tersebut, menurutnya, kepala sekolah menyetujui penggunaan piagam prestasi pencak silat tingkat provinsi yang kemudian disesuaikan penilaiannya menjadi setara prestasi tingkat kota sesuai ketentuan yang berlaku.

Setelah pemeriksaan berkas selesai, kepala sekolah disebut menanyakan Nilai Surat Keterangan Lulus (SKL) calon siswa. Narty kemudian menjawab bahwa nilai yang dimiliki adiknya tergolong rendah.

Namun, pada momen itulah ia mengaku merasa tidak nyaman. Menurut pengakuannya, kepala sekolah kemudian membacakan nilai akademik calon siswa dengan suara yang cukup keras di dalam ruangan yang juga dihadiri guru panitia, orang tua peserta lain, serta sejumlah calon siswa.

"Saya merasa malu karena nilai itu dibacakan di depan banyak orang. Ruangan saat itu cukup hening sehingga saya yakin banyak yang mendengar," tuturnya.

Meski demikian, proses verifikasi berkas tetap berlanjut. Salah satu guru panitia bahkan disebut menyatakan bahwa sertifikat yang dibawa telah diakui sehingga tidak perlu lagi dilakukan pengurusan tambahan ke instansi terkait.

Setelah diarahkan menuju meja panitia untuk melakukan pendaftaran, Narty mengaku kembali mengalami situasi yang membuatnya tersinggung.

Menurutnya, kepala sekolah tiba-tiba menghampirinya dan menanyakan asal sekolah dasar calon siswa tersebut. Setelah mengetahui bahwa calon siswa berasal dari SDN 005 Bontang Utara, kepala sekolah disebut melontarkan pernyataan yang menyinggung perilaku calon siswa.

"Beliau mengatakan, 'Takbir ini nakal ya? Suka mengganggu guru dengan cara menempelkan permen karet ke guru'," kata Narty menirukan ucapan yang didengarnya.

Mendengar pernyataan tersebut, Narty mengaku langsung mempertanyakan dasar informasi yang digunakan kepala sekolah.

"Saya tanya dapat informasi dari mana, apakah ada yang mengatakan seperti itu. Beliau menjawab ada, tetapi saat saya tanya siapa yang mengatakan, beliau tidak menjawab," ujarnya.

 Merasa tidak terima dan menganggap tuduhan tersebut tidak disertai bukti yang jelas, Narty kemudian memutuskan mengambil kembali berkas pendaftaran yang telah diserahkan.

"Saya bilang kalau tidak ada bukti, itu bisa menjadi fitnah. Setelah itu saya langsung mengambil berkas dan keluar dari ruangan sambil menangis karena merasa sakit hati dan malu," katanya.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah terkait tudingan tersebut. Media masih berupaya melakukan konfirmasi kepada kepala sekolah dan pihak panitia PPDB guna memperoleh penjelasan serta memastikan kronologi kejadian dari seluruh pihak yang terlibat.