Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan
TANJUNG REDEB – Ancaman abrasi di pesisir Kampung Payung-Payung, Kecamatan Pulau Maratua, semakin mengkhawatirkan.
Gelombang laut yang terus mengikis garis pantai kini tak hanya mengancam kawasan pesisir, tetapi juga mendekati permukiman warga yang berada di sepanjang bibir pantai.
Kondisi tersebut mendorong Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, turun langsung ke lokasi untuk melihat dampak abrasi yang terjadi. Kunjungan itu sekaligus menjadi upaya pemerintah daerah untuk menginventarisasi kebutuhan penanganan yang harus segera dilakukan demi mencegah kerusakan yang lebih parah.
Dalam peninjauan tersebut, Sri Juniarsih menyoroti semakin menyempitnya daratan akibat terjangan ombak yang terjadi secara terus-menerus.
“Jika tidak segera ditangani, abrasi akan mengancam keselamatan warga serta aktivitas masyarakat,” ucapnya.
Selain memantau kondisi pantai, Bupati juga meninjau bangunan bronjong yang selama ini menjadi benteng pertahanan abrasi di kawasan tersebut. Infrastruktur yang dibangun pada 2006 itu kini telah berusia hampir dua dekade dan dinilai perlu mendapat evaluasi menyeluruh.
Menurutnya, usia bangunan yang sudah mencapai sekitar 19 tahun membuat efektivitas bronjong dalam menahan gelombang laut perlu dikaji kembali.
“Peremajaan atau pembangunan ulang bronjong ini sangat diperlukan agar perlindungan pantai dapat berfungsi maksimal dalam menahan abrasi dan melindungi permukiman warga,” ujarnya.
Meski persoalan abrasi di wilayah pesisir bukan menjadi kewenangan pemerintah kabupaten, Pemkab Berau memastikan tidak akan tinggal diam. Pemerintah daerah akan segera berkoordinasi dan menyampaikan usulan kepada instansi yang memiliki kewenangan untuk menangani kawasan pesisir dan pantai.
“Kami akan sampaikan surat ke instansi yang berwenang agar kondisi abrasi di Kampung Payung-Payung ini dapat segera ditindaklanjuti dan mendapatkan penanganan yang diperlukan,”tambahnya.
Harapan tersebut dinilai penting mengingat dampak abrasi tidak hanya menyangkut kerusakan lingkungan, tetapi juga berpotensi mengancam keberlangsungan permukiman masyarakat di kawasan pesisir Pulau Maratua.
Dengan kondisi yang terus memburuk, kebutuhan akan pembangunan kembali infrastruktur pengendali abrasi menjadi semakin mendesak. Langkah itu diharapkan mampu menjaga garis pantai tetap aman sekaligus melindungi warga dari risiko kehilangan lahan dan tempat tinggal akibat abrasi yang terus bergerak mendekati kawasan permukiman. (Adv)



