Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan
BERAU - Sebanyak 31 Jurnalis asal Balikpapan dan Samarinda mengikuti kegiatan Bakti Infrastruktour 2026 di Pulau Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim), Rabu (10/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung pada 10-12 Juni 2026 ini mengusung tema "Melihat Langsung Dampak Konektivitas Digital di Pulau Terdepan Indonesia".
Program ini merupakan agenda media engagement dan site visit yang digagas oleh BAKTI Komdigi (Kementerian Komunikasi dan Digital).
Melalui kegiatan ini, para jurnalis diberikan kesempatan untuk melihat secara langsung hasil pembangunan infrastruktur telekomunikasi di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Peserta juga diajak merasakan pengalaman langsung (immersive experience) dalam memahami tantangan pembangunan konektivitas digital di kepulauan terluar, serta dampaknya bagi masyarakat, pariwisata, UMKM, pendidikan, kesehatan, hingga pertahanan wilayah.
Rombongan tiba di Pulau Maratua sekitar Pukul 13.00 WITA setelah melalui jalur penerbangan dan laut. Perjalanan dimulai dari Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan menuju Bandara Kalimarau Berau, dilanjutkan ke Dermaga Sanggam hingga akhirnya bertolak menuju Pratasaba Resort.
Setibanya di lokasi, rombongan langsung menyantap hidangan yang telah disediakan. Menu pilihan utama berupa palumara dengan ikan putih menjadi hidangan yang paling diminati oleh para jurnalis.
Manajer Operasional Pratasaba Resort, Slamet Hariyanto menyambut hangat kedatangan para awak media.
Ia memberikan safety briefing komprehensif mengenai fasilitas, protokol keselamatan, serta gambaran umum wilayah Pulau Maratua kepada para peserta.
"Pertama-tama, saya mewakili manajemen mengucapkan selamat datang. Semoga meeting hari ini dan kunjungan-kunjungannya ke kampung-kampung berjalan dengan lancar," ucap Eeng sapaannya.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan sejumlah aturan keselamatan penting selama berada di resort, termasuk kewajiban menggunakan pelampung saat berenang, snorkeling, maupun bermain kano guna mengantisipasi arus laut yang kuat di titik tertentu.
Pihak resort juga telah mengantisipasi mitigasi bencana dengan menyiapkan titik kumpul (master point) di area parkiran serta menyiagakan kendaraan operasional dan Puskesmas 24 jam untuk keadaan darurat.
Terkait dengan konektivitas digital yang menjadi sorotan utama dalam agenda Infrastruktour kali ini, Eeng memaparkan kondisi riil jaringan di kawasan resort tersebut.
Saat ini, jaringan seluler yang tersedia secara optimal baru berasal dari provider Telkomsel, sementara fasilitas WiFi baru dapat diakses secara terbatas di dalam area kamar masing-masing tamu menggunakan sistem voucher.
Kondisi komersial ini menjadi potret nyata dari pentingnya kehadiran negara melalui program-program Badan Layanan Umum BAKTI Komdigi.
Sebagai ujung tombak pemerintah, BAKTI bertugas mempercepat pemerataan akses di wilayah yang belum layak secara ekonomi bagi operator komersial melalui berbagai fokus utama.
Di antaranya adalah pemanfaatan Satelit Republik Indonesia (SATRIA-1), penyediaan akses internet (BAKTI AKSI), pembangunan BTS 4G (BAKTI SINYAL), jaringan tulang punggung Palapa Ring, hingga Program Ekosistem Digital.
Melalui pilar-pilar tersebut, negara hadir guna memastikan masyarakat di wilayah perbatasan memperoleh hak informasi dan peluang ekonomi digital yang inklusif.
Tak hanya mengenai fasilitas resort, Eeng juga mengenalkan potensi wisata dan profil Pulau Maratua kepada para jurnalis.
Ia menyebutkan bahwa pulau terdepan ini terus berkembang dan kini sudah memiliki akses jalan aspal sepanjang 40 kilometer yang menghubungkan empat kampung berpenduduk sekitar 4.000 jiwa.
"Di Maratua ini ada empat kampung dan semua sudah terhubung dengan aspal. Saat ini sudah ada 12 resort di sini, di mana enam di antaranya dikelola oleh lokal atau Indonesia, termasuk Pratasaba Resort, dan enam lainnya merupakan investasi asing dari Malaysia dan Jerman. Maratua ini memang sudah cukup terkenal di Eropa," tambahnya.
Melalui perhelatan Bakti Infrastruktour 2026 ini, para jurnalis diharapkan dapat memotret lebih dekat perkembangan infrastruktur digital serta perubahan sosial-ekonomi masyarakat pesisir.
Selama tiga hari ke depan, awak media diproyeksikan menghasilkan berbagai karya jurnalistik, mulai dari hard news, feature, hingga konten media sosial untuk menyuarakan bagaimana sinyal dan konektivitas dapat menumbuhkan peluang baru dari Pulau Maratua untuk Indonesia.


