Banner ADV

Kepala Udang yang Dulu Dianggap Limbah, Kini Berubah Jadi Camilan Andalan Pesisir Berau

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Produk unggulan Poklahsar Kerjasama Jaya, abon ikan kepala bandeng dan Uludang Crispy. (Foto: YKAN)
Produk unggulan Poklahsar Kerjasama Jaya, abon ikan kepala bandeng dan Uludang Crispy. (Foto: YKAN)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Kepala Udang yang Dulu Dianggap Limbah, Kini Berubah Jadi Camilan Andalan Pesisir Berau

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Produk unggulan Poklahsar Kerjasama Jaya, abon ikan kepala bandeng dan Uludang Crispy. (Foto: YKAN)
Produk unggulan Poklahsar Kerjasama Jaya, abon ikan kepala bandeng dan Uludang Crispy. (Foto: YKAN)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Kepala Udang yang Dulu Dianggap Limbah, Kini Berubah Jadi Camilan Andalan Pesisir Berau

Produk unggulan Poklahsar Kerjasama Jaya, abon ikan kepala bandeng dan Uludang Crispy. (Foto: YKAN)

Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan

TANJUNG REDEB – Siapa sangka bagian udang yang selama ini kerap dianggap limbah justru menjadi sumber penghasilan baru bagi perempuan pesisir di Kabupaten Berau. 

Berbekal kreativitas dan pendampingan usaha, kelompok ibu-ibu di Kampung Pegat Batumbuk, Kecamatan Pulau Derawan, berhasil mengubah kepala udang menjadi camilan renyah bernilai ekonomi tinggi bernama Uludang Crispy.

Produk tersebut lahir dari tangan anggota Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Kerjasama Jaya yang selama beberapa tahun terakhir aktif mengembangkan berbagai produk olahan hasil laut. Inovasi terbaru mereka menjadi bukti bahwa pengelolaan sumber daya perikanan tidak harus berhenti pada hasil utama, tetapi juga mampu memanfaatkan bagian yang sebelumnya kurang diperhatikan.

Ketua Poklahsar Kerjasama Jaya, Riska Febriani, mengungkapkan ide mengolah kepala udang muncul dari keinginan kelompok untuk memaksimalkan potensi bahan baku yang tersedia sekaligus mengurangi limbah produksi.

“Selama ini kepala udang sering terbuang begitu saja. Padahal setelah dicoba dan dikembangkan, ternyata bisa menjadi produk makanan yang memiliki nilai jual dan diminati konsumen,” ujarnya.

Menurut Riska, perjalanan mengembangkan Uludang Crispy tidak berlangsung instan. Kelompoknya mendapat berbagai pelatihan dan pendampingan dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Dinas Perikanan Kabupaten Berau melalui program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (SOMACORE).

Melalui program tersebut, para perempuan pesisir dibekali keterampilan mulai dari pengolahan produk, pengemasan, pencatatan keuangan, hingga strategi pemasaran. Hasilnya, usaha yang awalnya berskala kecil kini mulai mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Saat ini Uludang Crispy tidak hanya dipasarkan di Kampung Pegat Batumbuk, tetapi juga telah masuk ke sejumlah pusat oleh-oleh di Tanjung Redeb. Kehadiran produk tersebut membuka peluang promosi yang lebih besar sekaligus memperkenalkan hasil kreativitas masyarakat pesisir kepada wisatawan yang berkunjung ke Berau.

Riska mengatakan, peningkatan kualitas produk menjadi fokus utama kelompoknya. Karena itu, berbagai produk olahan yang dihasilkan kini telah dilengkapi legalitas usaha dan sertifikasi halal guna meningkatkan kepercayaan konsumen.

Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid. Menurutnya, inovasi pengolahan hasil perikanan menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat daya saing produk lokal.

“Produk seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat mampu menciptakan nilai tambah dari bahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara maksimal. Ini bukan hanya berdampak pada ekonomi keluarga, tetapi juga mendukung pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien dan berkelanjutan,” katanya.

Abdul Majid berharap produk-produk olahan perikanan Berau dapat terus berkembang dan menjadi identitas daerah. Menurutnya, keberadaan produk khas berbasis hasil laut dapat menjadi nilai tambah bagi sektor pariwisata yang terus tumbuh di Bumi Batiwakkal.

“Kami ingin ketika wisatawan datang ke Berau, mereka tidak hanya menikmati destinasi wisata, tetapi juga membawa pulang produk khas daerah yang berkualitas,” tambahnya.

Sementara itu, Manajer Senior Ekonomi Biru YKAN, Kiki Anggraini, menilai perempuan memiliki peran penting dalam membangun ekonomi pesisir yang tangguh. Karena itu, peningkatan kapasitas kelompok perempuan menjadi salah satu fokus yang terus didorong.

“Perempuan berada di posisi strategis dalam rantai usaha perikanan. Ketika kapasitas mereka diperkuat, maka peluang lahirnya inovasi dan usaha berkelanjutan juga semakin besar,” jelasnya.

Kiki menambahkan, pengembangan Uludang Crispy sejalan dengan konsep ekonomi biru yang dikembangkan YKAN melalui pendekatan Shrimp Carbon Aquaculture (SECURE). 

Konsep tersebut menggabungkan pengembangan usaha budidaya udang dengan upaya pelestarian ekosistem mangrove sehingga manfaat ekonomi dan lingkungan dapat berjalan beriringan.

Dengan dukungan legalitas, kualitas produk yang terus ditingkatkan, serta akses pasar yang semakin luas, Uludang Crispy kini tidak hanya menjadi camilan khas pesisir. Lebih dari itu, produk tersebut telah menjadi simbol kreativitas perempuan Berau dalam mengubah limbah menjadi peluang usaha yang menjanjikan. (Adv)