Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan
BERAU - Sekolah Dasar Negeri (SDN) 001 Payung-Payung, Kecamatan Maratua menjadi salah satu penerima layanan internet gratis dari Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Sekolah yang berada di wilayah pulau terluar Kabupaten Berau itu tercatat sebagai salah satu lokasi layanan Akses Internet (Aksi) BAKTI dengan tingkat pemanfaatan yang tinggi.
Kehadiran internet tersebut mendukung proses pembelajaran, pelaksanaan ujian berbasis daring, hingga administrasi sekolah yang kini sebagian besar dilakukan secara online.
Kepala SDN 001 Payung-Payung, Bahridin mengatakan keberadaan internet BAKTI sangat membantu aktivitas belajar mengajar di sekolahnya.
"Di sini, terutama sangat terbantu kami dengan adanya bantuan dari BAKTI. Kami bisa mengakses situs-situs yang memang diperlukan untuk pembelajaran. Jadi itu sangat membantu kami," kata Bahridin, Kamis (11/6/2026).
Menurut dia, selain layanan internet BAKTI, sekolah juga mendapat dukungan layanan internet lain sehingga dapat meanjadi cadangan ketika terjadi gangguan jaringan.
Meski demikian, kendala masih kerap terjadi saat jumlah pengguna meningkat karena jaringan internet di sekolah tersebut juga dapat diakses masyarakat sekitar.
"Sering lelet ketika yang mengakses banyak, karena dia terbuka untuk masyarakat juga di lingkungan ini. Kadang menjadi titik kumpul anak-anak dan warga di sekitar sekolah," ujarnya.
Bahridin menjelaskan internet BAKTI menjadi sarana penting dalam pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) maupun Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang seluruh prosesnya dilakukan secara daring.
"Kalau dulu ANBK dan sekarang ada TKA, itu untuk ujian. Jadi ujian sekarang sifatnya online. Kami sangat terbantu dengan adanya jaringan WiFi ini," katanya.
Saat pelaksanaan ujian, kata dia, akses internet terkadang melambat karena digunakan secara bersamaan oleh siswa dan masyarakat sekitar.
"Ketika ujian banyak siswa yang menggunakan, masyarakat juga banyak menggunakan, sehingga agak lelet. Kami harus beralih ke jaringan internet yang lain," ujarnya.
Ia menegaskan layanan internet dari BAKTI dapat digunakan secara gratis oleh sekolah.
"BAKTI gratis. Alhamdulillah gratis, tidak ada bayar, dan kami sangat terbantu. Terima kasih banyak untuk bantuannya dari BAKTI," ucapnya.
Bahridin menyebut sekolah telah menikmati layanan internet BAKTI selama kurang lebih dua tahun terakhir. Sebelum layanan tersebut hadir, guru dan siswa mengalami kesulitan untuk mendapatkan akses internet.
"Kalau sebelum-sebelumnya sangat kesulitan ketika ada keperluan. Bahkan kita mengaksesnya sampai ke ujung jembatan mencari internet dari kampung sebelah. Alhamdulillah sekarang sudah sangat terbantu," katanya.
Saat ini SDN 001 Payung-Payung memiliki sekitar 94 siswa dengan 13 tenaga pendidik dan tenaga teknis.
Sementara Direktur Utama BAKTI Komdigi, Fadhilah Mathar menjelaskan tantangan utama layanan internet di daerah terpencil tidak selalu berasal dari jaringan, tetapi juga faktor pendukung seperti pasokan listrik.
"Kadang-kadang rusaknya bukan karena modemnya, tapi karena listrik. Kalau listrik naik turun dan perangkat elektronik tidak di-shutdown dengan tertib, perangkat bisa cepat rusak. Itu salah satu tantangan di lapangan," ucap Indah sapaannya.
Ia mengatakan penyediaan listrik untuk layanan akses internet di sekolah menjadi tanggung jawab pihak penerima manfaat sejak awal pengajuan layanan.
"Sekolah ataupun pengusulnya sudah harus memiliki listrik. Jadi listrik bukan tanggung jawab BAKTI. Itu berbeda dengan layanan sinyal seluler yang juga menjadi tanggung jawab kami," katanya.
Terkait keluhan kecepatan internet di SDN 001 Payung-Payung, Indah memperkirakan kecepatan yang tersedia saat ini berada di kisaran 30 Mbps. Namun kebutuhan dapat meningkat saat pelaksanaan ujian berbasis daring.
"Kalau kita lihat tadi mungkin sekitar 30 Mbps, tetapi kalau untuk ujian mereka meminta sampai 100 Mbps," ujarnya.
Ia juga menemukan adanya jaringan khusus yang sebenarnya telah disediakan untuk kebutuhan sekolah, namun belum dimanfaatkan secara optimal.
"Kayaknya mereka belum tahu. Pada saat kami cek, yang khusus untuk sekolah justru penggunaannya masih sedikit, sementara yang dipakai ramai-ramai adalah jaringan umum. Ini menjadi catatan yang harus kami koreksi dan sosialisasikan kembali," katanya.
Selain layanan Akses Internet BAKTI, wilayah Maratua juga didukung keberadaan VSAT yang terhubung ke Satelit Republik Indonesia (SATRIA-1) serta BTS 4G Universal Service Obligation (USO) di Kampung Bohesilian.
Kehadiran infrastruktur tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas konektivitas digital hingga ke wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal, termasuk mendukung layanan pendidikan di Pulau Maratua.


