Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin
BERAU - Berdiri di Kampung Bohe Silian, Kecamatan Maratua, sebuah menara telekomunikasi menjadi penopang utama konektivitas di salah satu wilayah terluar Indonesia.
Bukan sekadar tower biasa, BTS Universal Service Obligation (USO) milik Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menjadi penghubung masyarakat dengan layanan komunikasi dan internet di daerah yang belum layak secara bisnis bagi operator komersial.
Di tengah bentang laut dan belum tersambungnya kabel optik, layanan telekomunikasi di Pulau Maratua berjalan dengan teknologi Very Small Aperture Terminal (VSAT) atau satelit.
Plt Direktur Infrastruktur BAKTI Komdigi, Darien Aldiano menjelaskan, kehadiran BTS USO merupakan bentuk intervensi negara agar masyarakat di wilayah terdepan tetap mendapatkan hak yang sama atas akses komunikasi.
"Ini memang kewajiban pemerintah untuk menyiapkan layanan telekomunikasi kepada masyarakat. Karena kalau bertemu kepentingan usaha atau bisnis, ini tidak masuk nilai komersial di Pulau Maratua. Tidak ada kabel optik di sini, sehingga mau tidak mau tower BTS ini menggunakan VSAT," ucap Darien.
Ia menjelaskan, berbeda dengan BTS di perkotaan yang umumnya menggunakan jaringan serat optik atau microwave, BTS di Maratua mengandalkan satelit agar sinyal tetap bisa menjangkau pulau.
Menurutnya, sistem microwave bekerja seperti sambungan antar menara yang saling terhubung secara berantai, sementara satelit cukup mengarahkan antena ke wilayah cakupan sehingga layanan bisa langsung aktif.
"Kalau satelit sepanjang dia ketemu pointing-nya, mau di ujung manapun selama masih terjangkau satelit tersebut, layanan bisa berjalan," katanya.
Namun, kemudahan menjangkau daerah terpencil itu dibayar mahal.
Darien mengungkapkan biaya layanan satelit saat ini masih tinggi karena investasi pembangunan satelit dan infrastruktur pendukung membutuhkan modal besar dengan umur operasional yang terbatas.
"Rata-rata saat ini biaya per Mbps sekitar Rp2 juta. Karena membuat satelit dan seluruh infrastrukturnya itu mahal. Umumnya dihitung untuk operasional sekitar 15 tahun," jelasnya.
Ia mengatakan teknologi satelit saat ini sudah berkembang menggunakan Ka-band dan Ku-band yang memiliki kapasitas lebih besar dibanding generasi sebelumnya seperti C-band.
Meski lebih efisien dari sisi kapasitas, teknologi baru tetap memiliki tantangan, terutama sensitivitas terhadap kondisi cuaca.
BTS USO di Maratua sendiri telah beroperasi sejak 2018. Infrastruktur fisiknya dibangun dan dikelola oleh pihak ketiga, yakni Mitratel, sementara BAKTI melakukan pembayaran layanan untuk memastikan masyarakat tetap memperoleh akses telekomunikasi.
"Seluruh properti seperti tower ini milik pihak pengelola. Mereka yang investasi di awal. BAKTI melakukan kontrak layanan untuk memastikan masyarakat menerima sinyal. Kalau ada kerusakan, vandalisme, atau gangguan lainnya, pihak ketiga yang melakukan perbaikan," ujarnya.
Darien menyebut seluruh operasional dan penggunaan layanan dipantau secara langsung melalui sistem monitoring milik BAKTI.
Dari catatan yang dimiliki, jumlah pengguna BTS di wilayah tersebut mencapai sekitar 250 orang.
"Secara hitungan ekonomi BTS reguler memang sulit masuk. Karena pengguna hanya sekitar 250 orang. Makanya dibantu dengan teknologi VSAT," katanya.
Ia menambahkan fungsi BTS USO tidak hanya menghadirkan internet, tetapi juga memastikan layanan komunikasi seluler tetap tersedia melalui jaringan 4G.
Menurut Darien, kebutuhan masyarakat saat ini juga telah berubah dibanding satu dekade lalu.
"Dulu orang hanya telepon, SMS, kebutuhan datanya kecil. Sekarang semua aplikasi membutuhkan bandwidth besar, video, panggilan daring, media sosial. Makanya sekarang masuk era broadband," jelasnya.
BTS 4G di lokasi tersebut memiliki kapasitas sekitar 8 Mbps yang dibagi untuk seluruh pengguna aktif. Karena itu, kualitas akses sangat dipengaruhi jumlah pengguna yang terhubung secara bersamaan.
"Kalau dipakai ramai-ramai tentu terasa lebih berat. Apalagi sekarang penggunaan internet sudah berubah dan kebutuhan datanya jauh lebih besar dibanding dulu," pungkasnya.


