Kawasan Hutan Kaliorang Rusak, Pasokan Air bagi 3.827 Pelanggan Perumdam Terancam

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Terlihat Pemerintah Kecamatan Kaliorang saat memantau saluran air minum di Kaliorang. (Foto: Dok PDAM Kutai Timur)
Terlihat Pemerintah Kecamatan Kaliorang saat memantau saluran air minum di Kaliorang. (Foto: Dok PDAM Kutai Timur)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kawasan Hutan Kaliorang Rusak, Pasokan Air bagi 3.827 Pelanggan Perumdam Terancam

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Terlihat Pemerintah Kecamatan Kaliorang saat memantau saluran air minum di Kaliorang. (Foto: Dok PDAM Kutai Timur)
Terlihat Pemerintah Kecamatan Kaliorang saat memantau saluran air minum di Kaliorang. (Foto: Dok PDAM Kutai Timur)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kawasan Hutan Kaliorang Rusak, Pasokan Air bagi 3.827 Pelanggan Perumdam Terancam

Terlihat Pemerintah Kecamatan Kaliorang saat memantau saluran air minum di Kaliorang. (Foto: Dok PDAM Kutai Timur)

Reporter: Siswandi | Editor: Bambang Irawan 

SANGATTA – Ancaman krisis air bersih mulai membayangi ribuan warga di Kecamatan Kaliorang dan Sangkulirang, Kutai Timur (Kutim). 

Dari empat sumber mata air yang selama ini menjadi andalan pasokan air baku Perumdam Tirta Tuah Benua (TTB), kini hanya tersisa satu titik yang masih aktif.

Menyusutnya sumber mata air tersebut diduga berkaitan dengan kerusakan kawasan hutan di daerah tangkapan air (catchment area) Kaliorang yang semakin masif. 

Kondisi itu terungkap dalam peninjauan lapangan yang dilakukan Pemerintah Kecamatan Kaliorang bersama Perumdam TTB Cabang Kaliorang-Sangkulirang serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam).

Pelaksana Tugas Camat Kaliorang, Pitriani mengatakan tim menemukan sejumlah titik kawasan hutan yang telah dibuka dan mengalami perambahan. 

Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap berkurangnya debit mata air yang selama ini menjadi sumber pasokan air bersih masyarakat.

"Saat kami melakukan survei, ditemukan beberapa titik kawasan hutan yang telah dibuka atau dirambah. Hal inilah yang membuat debit air di bak penampungan menurun drastis karena sumber mata air kita menyusut dari empat titik menjadi sisa satu titik saja," ujarnya.

Dampaknya mulai dirasakan pada kapasitas produksi air baku. Untuk melayani 3.827 pelanggan di Kaliorang dan Sangkulirang, Perumdam membutuhkan pasokan ideal sekitar 40 hingga 50 liter per detik. 

Namun, saat ini debit air yang tersedia hanya berkisar 12 hingga 15 liter per detik.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan layanan air bersih bagi masyarakat. 

Pasalnya, kebutuhan air terus meningkat, sementara ketersediaan sumber air justru mengalami penurunan signifikan.

Bagi Pemerintah Kecamatan Kaliorang, persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan pelayanan publik, tetapi juga menjadi peringatan atas menurunnya fungsi ekologis kawasan hutan.

Pitriani menilai kerusakan hutan di sekitar daerah resapan merupakan faktor utama menyusutnya sumber mata air. 

Karena itu, pihaknya berencana melakukan reboisasi atau penghijauan pada kawasan yang mengalami kerusakan guna memulihkan fungsi daerah tangkapan air dalam jangka panjang.

Namun, upaya tersebut membutuhkan waktu. Sementara itu, kebutuhan masyarakat terhadap air bersih harus tetap dipenuhi setiap hari.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah kecamatan mulai mempertimbangkan sumber air baku alternatif dari kawasan Gunung Sekerat.

Meski demikian, Pitriani mengingatkan bahwa pencarian sumber baru tidak akan menyelesaikan persoalan apabila upaya menjaga kelestarian hutan tidak dilakukan secara serius.

"Jangan sampai saat kita beralih ke Gunung Sekerat, dampaknya akan serupa seperti hari ini akibat kita tidak menjaga kelestarian hutan. Jika bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Apakah kita tega membiarkan generasi mendatang tidak bisa menikmati kekayaan alam kita?" katanya.

Sementara itu, Kepala Perumdam TTB Cabang Kaliorang-Sangkulirang, Takimbudi Asmuri mengatakan pihaknya tengah mengkaji sejumlah alternatif untuk menjamin keberlanjutan layanan air bersih. 

Salah satunya dengan memanfaatkan infrastruktur yang berkaitan dengan operasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy yang ditargetkan mulai berjalan pada akhir Juli 2026.

Menurut Takimbudi, langkah antisipatif perlu disiapkan sejak dini mengingat ketimpangan antara kebutuhan masyarakat dan kapasitas sumber air baku yang tersedia semakin melebar.

Pemerintah Kecamatan Kaliorang juga berharap adanya perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Kutim, termasuk dukungan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sekitar kawasan hutan, untuk bersama-sama menjaga daerah resapan air.

"Kami sangat berharap Pemerintah Kabupaten Kutai Timur bisa memberikan perhatian khusus terhadap kondisi alam di Kecamatan Kaliorang, terkhusus untuk mengamankan suplai air baku Perumdam ini," ujar Pitriani.

Menyusutnya mata air di Kaliorang menjadi pengingat bahwa krisis air bersih sering kali bermula dari kerusakan lingkungan di wilayah hulu. 

Ketika hutan kehilangan kemampuannya menyerap dan menyimpan air, masyarakat di hilir menjadi pihak pertama yang menanggung dampaknya.

Jika tidak segera ditangani, persoalan ini bukan hanya mengancam ketersediaan air bersih saat ini, tetapi juga mempertaruhkan keberlanjutan sumber daya alam bagi generasi mendatang.