Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan
SAMARINDA – Persiapan operasional Sekolah Rakyat 48 di Kecamatan Palaran terus menunjukkan perkembangan positif.
Di tengah percepatan pembangunan fisik yang ditargetkan fungsional pada tahun ajaran ini, proses penjangkauan calon peserta didik juga dilaporkan hampir memenuhi kuota yang telah ditetapkan.
Program prioritas nasional tersebut dirancang sebagai kawasan pendidikan terpadu berbasis asrama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Hingga awal Juni 2026, progres pembangunan Sekolah Rakyat di Samarinda telah mencapai 80,26 persen.
Kompleks pendidikan tersebut terdiri dari 24 bangunan yang mencakup gedung sekolah jenjang SD, SMP, dan SMA, asrama siswa putra dan putri, asrama guru, kantin, masjid, fasilitas olahraga, hingga Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Dalam audiensi bersama Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Kalimantan Timur (Kaltim), Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menekankan pentingnya memastikan seluruh aspek pembangunan, pengelolaan aset, serta kesiapan operasional sekolah sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.
Menurutnya, kejelasan terkait pengelolaan aset, mekanisme operasional, hingga kesiapan tenaga pendidik harus dipastikan sejak dini agar fasilitas yang telah dibangun dapat langsung dimanfaatkan tanpa kendala.
Sementara itu, proses rekrutmen peserta didik terus berjalan melalui mekanisme penjangkauan yang dilakukan tenaga pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di bawah koordinasi Kementerian Sosial.
Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos PM) Kota Samarinda, Arif Surochman, menjelaskan bahwa sistem penerimaan siswa tahun ini berbeda dibanding tahun sebelumnya. Pemerintah daerah tidak lagi membuka pendaftaran secara langsung, melainkan membantu koordinasi di lapangan.
"Untuk tahun ajaran 2026/2027, Sekolah Rakyat 48 mendapatkan kuota sebanyak 210 siswa, terdiri dari 60 siswa SD, 60 siswa SMP, dan 90 siswa SMA," ujar Arif.
Ia menjelaskan, calon peserta didik diprioritaskan berasal dari keluarga kategori Desil 1 dan Desil 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Nama-nama calon siswa telah disiapkan oleh Kementerian Sosial dan kemudian dilakukan penjangkauan langsung oleh pendamping PKH untuk memastikan kesediaan mengikuti program tersebut.
"Kalau melihat perkembangan di lapangan, kuota sudah hampir terpenuhi. Saat ini teman-teman masih melakukan tabulasi dan verifikasi data calon peserta didik," katanya.
Arif optimistis proses rekrutmen dapat berjalan lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Selain memiliki waktu persiapan yang lebih panjang, berbagai evaluasi dari pelaksanaan tahun lalu juga telah menjadi bahan perbaikan dalam proses penjangkauan calon siswa.
Dengan pembangunan yang terus dikebut dan kuota peserta didik yang hampir terpenuhi, Sekolah Rakyat Palaran diharapkan dapat segera menjadi pusat pendidikan berasrama yang membuka akses pendidikan lebih luas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di Samarinda.


