Lahan dan Pakan Melimpah, Kutim Justru Kekurangan Pelaku Peternakan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dyah Ratnaningrum. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dyah Ratnaningrum. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Lahan dan Pakan Melimpah, Kutim Justru Kekurangan Pelaku Peternakan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dyah Ratnaningrum. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dyah Ratnaningrum. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Lahan dan Pakan Melimpah, Kutim Justru Kekurangan Pelaku Peternakan

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dyah Ratnaningrum. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)

Reporter: Siswandi | Editor: Bambang Irawan

SANGATTA – Di tengah besarnya potensi pengembangan peternakan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), pemerintah justru menghadapi persoalan mendasar berupa minimnya jumlah masyarakat yang menekuni usaha peternakan.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dyah Ratnaningrum menyebut tantangan utama sektor peternakan saat ini bukan terletak pada ketersediaan lahan maupun pakan, melainkan masih sedikitnya pelaku usaha yang bergerak di bidang tersebut.

Menurut Dyah, berdasarkan data statistik, populasi sapi di Kutim saat ini tercatat sekitar 19.286 ekor. 

Angka tersebut dinilai masih tertinggal dibanding sejumlah daerah di Pulau Jawa yang memiliki basis peternak rakyat lebih kuat.

"Kalau kita bandingkan dengan di Jawa, sebenarnya yang kita hadapi bukan peternak miskin, tetapi miskin peternak. Pelaku peternakan kita masih sedikit," ujarnya.

Ia mencontohkan Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, yang memiliki luas wilayah lebih kecil dibanding Kutim, namun mampu mencatat populasi sapi sekitar 40 ribu ekor. 

Sementara itu, Kabupaten Jember memiliki populasi sapi mencapai sekitar 97.500 ekor.

Dyah menilai tingginya populasi ternak di daerah-daerah tersebut tidak terlepas dari keterlibatan masyarakat yang menjadikan peternakan sebagai bagian dari aktivitas ekonomi rumah tangga.

"Di sana hampir setiap rumah tangga menjadi pelaku peternakan. Itu yang membuat populasi ternaknya berkembang pesat," katanya.

Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi catatan penting bagi Kutim yang selama ini dikenal memiliki sumber daya lahan cukup luas. 

Tanpa adanya regenerasi peternak, potensi tersebut dikhawatirkan tidak mampu dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung ketahanan pangan daerah.

Karena itu, Dyah mendorong keterlibatan kalangan mahasiswa dalam aktivitas peternakan. Ia menilai pendidikan peternakan tidak cukup hanya berhenti pada tataran teori, tetapi perlu diimbangi dengan praktik langsung di lapangan.

"Jangan hanya wacana dan rencana, tetapi harus ada aksi. Mahasiswa perlu terlibat langsung sehingga memiliki pengalaman dan ketertarikan terhadap dunia peternakan," jelasnya.

Di sisi lain, ia menegaskan Kutim memiliki modal besar untuk mengembangkan sektor peternakan. Selain didukung ketersediaan lahan, daerah ini juga memiliki sumber pakan ternak yang melimpah, mulai dari jagung hingga berbagai jenis Hijauan Pakan Ternak (HPT) unggul.

Menurut Dyah, tantangan berikutnya adalah menyiapkan sumber daya manusia yang bersedia menjadikan peternakan sebagai pilihan usaha yang menjanjikan.

"Potensi pakan kita luar biasa. Ada jagung dan berbagai jenis rumput unggul yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan peternakan. Tinggal bagaimana kita menyiapkan sumber daya manusia yang mau menekuni sektor ini," pungkasnya.