Diskominfo Kaltim Soroti Bahaya Hoaks di Tengah Tingginya Pengguna Internet

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Kadiskominfo Kaltim Muhammad Faisal (tengah) saat hadir di kegiatan Wartawan Legend Bedapatan ke-4 di Hotel Claro Pandurata. (Foto: Humas Wartawan Legend).
Kadiskominfo Kaltim Muhammad Faisal (tengah) saat hadir di kegiatan Wartawan Legend Bedapatan ke-4 di Hotel Claro Pandurata. (Foto: Humas Wartawan Legend).

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Diskominfo Kaltim Soroti Bahaya Hoaks di Tengah Tingginya Pengguna Internet

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Kadiskominfo Kaltim Muhammad Faisal (tengah) saat hadir di kegiatan Wartawan Legend Bedapatan ke-4 di Hotel Claro Pandurata. (Foto: Humas Wartawan Legend).
Kadiskominfo Kaltim Muhammad Faisal (tengah) saat hadir di kegiatan Wartawan Legend Bedapatan ke-4 di Hotel Claro Pandurata. (Foto: Humas Wartawan Legend).

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Diskominfo Kaltim Soroti Bahaya Hoaks di Tengah Tingginya Pengguna Internet

Kadiskominfo Kaltim Muhammad Faisal (tengah) saat hadir di kegiatan Wartawan Legend Bedapatan ke-4 di Hotel Claro Pandurata. (Foto: Humas Wartawan Legend).

Reporter : Herdiansyah l Editor : Buniyamin 

SAMARINDA – Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim, Muhammad Faisal mengungkapkan, penetrasi internet di Kaltim saat ini telah mencapai lebih dari 80 persen.

Ia menyampaikan mayoritas masyarakat mengakses internet melalui perangkat seluler, sehingga arus informasi bergerak semakin cepat dan masif.

Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi perkembangan media digital dan penyebaran informasi kepada masyarakat.

Namun di sisi lain, tingginya penggunaan internet juga menghadirkan tantangan baru berupa maraknya informasi yang tidak terverifikasi.

Menurut dia, hoaks saat ini jauh lebih berbahaya dibanding sekadar informasi yang salah. Sebab, hoaks kerap berasal dari fakta yang sengaja dipelintir untuk membentuk atau memengaruhi opini publik.

“Hoaks sekarang tidak selalu berupa kebohongan total. Banyak yang berangkat dari fakta, tetapi dipelintir sehingga menyesatkan masyarakat,” terangnya. 

Faisal juga menyoroti fenomena post-truth, yang dominasi algoritma media sosial sehingga membuat informasi populer lebih cepat menyebar dibandingkan informasi yang akurat.

Ia meminta masyarakat perlu lebih kritis dalam menerima dan menyebarkan informasi di ruang digital.

“Jangan sampai kita terbawa arus algoritma. Sesuatu yang ramai belum tentu benar. Di sinilah peran pers profesional menjadi sangat penting,” katanya.

Lebih lanjut, Faisal menilai jurnalisme dan media sosial bukanlah dua hal yang saling berlawanan. Keduanya merupakan bagian dari ekosistem informasi yang harus saling melengkapi.

Kecepatan penyebaran informasi di media sosial perlu diimbangi dengan proses verifikasi yang menjadi prinsip utama jurnalisme.

Sebaliknya, kata dia, media massa juga dituntut mampu bergerak cepat agar tidak kehilangan momentum dalam menyampaikan informasi kepada publik.

“Media sosial memiliki keunggulan dalam kecepatan, sementara media massa memiliki kekuatan pada verifikasi. Keduanya harus berjalan beriringan agar masyarakat mendapatkan informasi yang cepat sekaligus akurat,” pungkasnya.