Banner ADV

Tambak Dipersempit demi Mangrove, Hasil Panen Udang di Berau Justru Meningkat

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Salah satu petambak, Abdul Rahman yang berhasil memanen udang windu. (Foto: YKAN)
Salah satu petambak, Abdul Rahman yang berhasil memanen udang windu. (Foto: YKAN)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Tambak Dipersempit demi Mangrove, Hasil Panen Udang di Berau Justru Meningkat

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Salah satu petambak, Abdul Rahman yang berhasil memanen udang windu. (Foto: YKAN)
Salah satu petambak, Abdul Rahman yang berhasil memanen udang windu. (Foto: YKAN)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Tambak Dipersempit demi Mangrove, Hasil Panen Udang di Berau Justru Meningkat

Salah satu petambak, Abdul Rahman yang berhasil memanen udang windu. (Foto: YKAN)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin

TANJUNG REDEB – Penerapan budidaya tambak berbasis ekosistem melalui program Shrimp Carbon Aquaculture (SECURE) di Kabupaten Berau menunjukkan hasil yang positif. 

Selain mendukung upaya pelestarian mangrove, pendekatan tersebut juga terbukti mampu meningkatkan produktivitas tambak dan memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat pesisir.

Hal itu terlihat dari hasil panen program Shrimp Carbon Aquaculture (SECURE) yang dilaksanakan di Kampung Pegat Batumbuk dan Kampung Suaran pada 3 Juni 2026. 

Program yang didukung Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Dinas Perikanan Berau tersebut menggabungkan aktivitas budidaya perikanan dengan upaya pemulihan ekosistem mangrove.

Salah satu petambak, Abdul Rahman, berhasil memanen 115 kilogram udang windu, 141 kilogram udang bintik, 1,9 ton ikan bandeng, serta 50 kilogram kepiting bakau dari tambaknya di Kampung Pegat Batumbuk.

Menariknya, produksi udang windu tersebut meningkat sekitar 15 persen dibandingkan rata-rata panen sebelumnya yang hanya berkisar 100 kilogram.

Padahal, area budidaya yang digunakan kini hanya sekitar 20 persen dari luas tambak semula.

“Selain udang, kami juga mendapatkan bandeng dan kepiting bakau. Hasil ini menunjukkan pengelolaan tambak yang memperhatikan kondisi lingkungan tetap mampu memberikan keuntungan,” ujar Abdul Rahman.

Sekitar 80 persen kawasan tambak dialokasikan untuk perlindungan dan pemulihan mangrove.

Sementara area budidaya dimanfaatkan secara lebih efisien dengan menerapkan teknik budidaya yang memperhatikan keseimbangan ekosistem.

Program tersebut juga memperkuat kapasitas petambak melalui sekolah lapang. Mereka diajarkan membuat kompos dan Mikrorganisme Lokal (MoL) untuk menjaga kualitas lingkungan tambak, sekaligus menerapkan teknik nursery atau pendederan agar benih lebih kuat sebelum ditebar ke kolam pembesaran.

Hasil positif juga dirasakan Jumardi, petambak di Kampung Suaran. Bersama keluarganya, ia berhasil memanen 284,2 kilogram udang windu dan 120 kilogram udang bintik setelah menerapkan teknik budidaya yang diperoleh melalui pendampingan program SECURE.

Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid Menilai penerapan budidaya tambak ramah lingkungan melalui program SECURE menjadi bukti bahwa peningkatan produksi perikanan dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian ekosistem pesisir.

Menurutnya, integrasi antara restorasi mangrove dan pengelolaan tambak yang lebih baik mampu menciptakan sistem budidaya yang lebih produktif dan efisien, sekaligus berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.

“Pendekatan ini menunjukkan bahwa budidaya perikanan tidak harus mengorbankan lingkungan. Justru dengan menjaga mangrove dan kualitas ekosistem pesisir, produktivitas tambak dapat meningkat dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, model budidaya tersebut sejalan dengan komitmen Pemerintah Kabupaten Berau dalam mendorong pembangunan sektor perikanan yang berbasis ekonomi biru, yakni memanfaatkan sumber daya pesisir secara optimal tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan lingkungan. (Adv)