Reporter: Siswandi | Editor: Buniyamin
SANGATTA – Keterbatasan sumber air baku di sejumlah wilayah pesisir Kutai Timur (Kutim) mendorong pemerintah daerah mencari alternatif penyediaan air bersih yang lebih berkelanjutan.
Salah satu opsi yang kini disiapkan adalah pembangunan instalasi pengolahan air laut menjadi air layak konsumsi melalui teknologi desalinasi.
Ketua Komisi C DPRD Kutim, Ardiansyah mengatakan rencana tersebut telah masuk dalam dokumen perencanaan daerah, baik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) maupun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kutim.
Menurutnya, program penyediaan air bersih tersebut juga menjadi bagian dari 50 program unggulan Bupati dan Wakil Bupati Kutim yang berfokus pada peningkatan pelayanan dasar masyarakat.
"Ini juga merupakan bagian dari 50 program unggulan bupati dan wakil bupati Kutai Timur. Salah satu program tersebut berfokus pada pengadaan dan pelayanan air bersih bagi masyarakat, terutama untuk memenuhi kebutuhan warga di Bengalon, Kaliorang, Kaubun, Sangkulirang, Karangan, dan Sandaran," ujar Ardiansyah.
Ia mengatakan kondisi geografis dan terbatasnya ketersediaan sumber air tawar di sejumlah kecamatan pesisir menjadi tantangan tersendiri dalam pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat.
Untuk itu, pemanfaatan teknologi Reverse Osmosis (RO) dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk mengolah air laut maupun air payau menjadi air layak konsumsi.
Dalam upaya merealisasikan program tersebut, pemerintah daerah menggandeng investor serta perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan air.
Salah satunya adalah perusahaan asal China, Blue Water Green, yang direncanakan mengembangkan proyek di kawasan antara Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, dan Kecamatan Kaliorang.
Ardiansyah menegaskan, DPRD Kutim akan mengawal proses pelaksanaan program tersebut mengingat penyediaan air bersih merupakan kebutuhan mendasar masyarakat.
"Insyaallah kami dari Komisi C DPRD Kutim akan mengawal dan mendukung program pemerintah ini karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat," katanya.
Kini, investor masih melakukan berbagai persiapan, mulai dari studi kelayakan teknis dan ekonomi, analisis kebutuhan air jangka panjang, kajian dampak lingkungan, hingga perencanaan jaringan distribusi air bersih.
Selain itu, proyeksi kebutuhan air bersih untuk wilayah Bengalon, Kaliorang, Kaubun, Sangkulirang, Karangan, dan Sandaran dalam kurun waktu 20 hingga 30 tahun ke depan juga menjadi bagian dari kajian yang tengah disusun.
Apabila terealisasi, fasilitas pengolahan air laut tersebut diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat pesisir, tetapi juga mendukung pertumbuhan kawasan industri dan pelabuhan serta mengurangi ketergantungan terhadap pemanfaatan air tanah.


