Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin
BALIKPAPAN - Keluhan warga Balikpapan Timur, Kota Balikpapan yang harus menempuh jarak cukup jauh untuk mendapatkan Pertalite mulai mendapat perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan.
Pemkot kini mengkaji kemungkinan membuka satu titik penyaluran Pertalite di wilayah tersebut untuk memudahkan akses masyarakat terhadap BBM bersubsidi. Persoalan itu mencuat dalam dialog antara mahasiswa dan pemerintah saat aksi penyampaian aspirasi di DPRD Balikpapan, Senin (15/6/2026).
Asisten I Sekretariat Kota (Setkot) Balikpapan, Zulkifli mengakui hingga saat ini belum ada SPBU di Balikpapan Timur yang melayani penjualan Pertalite. Kondisi tersebut menjadi sorotan, terutama setelah kenaikan harga BBM nonsubsidi yang mendorong sebagian masyarakat beralih dari Pertamax ke Pertalite.
"Teman-teman mahasiswa menyebut bahwa di Balikpapan Timur tidak ada outlet SPBU yang Pertalite. Sehingga mereka minta minimal ada satu," kata Zulkifli.
Menurutnya, usulan tersebut sedang dipelajari bersama pihak terkait. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah mengalokasikan satu SPBU di Balikpapan Timur sebagai titik penyaluran Pertalite.
"Nanti kita lihat apakah satu SPBU di Timur bisa kita alokasikan untuk outlet penyaluran Pertalite di sana. Mudah-mudahan bisa, kami pelajari dulu," ujarnya.
Kini, terdapat delapan SPBU di Balikpapan yang melayani penjualan Pertalite, tapi tidak seluruhnya dapat melayani semua jenis kendaraan. Untuk kendaraan roda dua dan roda empat, penyaluran Pertalite tersedia di SPBU Gunung Guntur, Batu Ampar KM 4,5, dan Karang Joang KM 14.
Sementara khusus kendaraan roda dua, Pertalite tersedia di SPBU Stalkuda dan SPBU Marsma Iswahyudi.
Adapun kendaraan roda empat, layanan Pertalite tersedia di SPBU KM 9, MT Haryono Damai dan Kelurahan Karang Anyar.
Berbeda dengan wilayah lain, dua SPBU yang berada di Balikpapan Timur, yakni SPBU Batakan dan SPBU Teritip, hingga kini belum melayani penjualan BBM subsidi, termasuk Pertalite. Kondisi ini membuat warga Balikpapan Timur harus menuju wilayah lain untuk mendapatkan Pertalite.
Bagi pengguna sepeda motor, salah satu pilihan terdekat adalah SPBU Stalkuda yang jaraknya cukup jauh dari sebagian kawasan di Balikpapan Timur. Mahasiswa menilai kondisi tersebut berpotensi menambah beban masyarakat, terutama setelah meningkatnya minat penggunaan Pertalite akibat penyesuaian harga BBM.
Selain membahas Pertalite, Zulkifli juga menjelaskan strategi pemerintah dalam menjaga ketersediaan kuota BBM subsidi di Balikpapan.
Ia mengatakan kuota BBM yang telah ditetapkan setiap tahun tidak mengalami perubahan meskipun terjadi peningkatan konsumsi. Jika kebutuhan meningkat pada bulan tertentu, pemerintah bersama Pertamina akan menggunakan alokasi bulan berikutnya untuk menutupi kekurangan sementara.
"Kalau kuota tetap karena dihitung per tahun. Strateginya menarik kuota bulan berikutnya. Nanti menjelang akhir tahun baru dievaluasi apakah perlu pengajuan tambahan," jelasnya.
Menurut Zulkifli, evaluasi dilakukan secara berkala oleh pemerintah daerah bersama Pertamina untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Sementara untuk BBM subsidi jenis solar, Pemkot sebelumnya telah mengkaji kemungkinan membuka layanan di Balikpapan Timur.
Namun rencana tersebut belum dapat direalisasikan karena faktor kondisi jalan dan aktivitas kawasan wisata.
"Kalau solar sudah kita nyatakan tidak bisa karena jalannya sempit dan di sana ada aktivitas pariwisata. Tidak mungkin kawasan wisata berdampingan dengan antrean truk," katanya.
Saat ini penyaluran solar subsidi di Balikpapan masih terpusat di dua lokasi, yakni SPBU Pulau Balang KM 13 dan SPBU Karang Joang KM 14.
Pemkot berharap kajian penambahan titik penyaluran Pertalite di Balikpapan Timur dapat menjadi solusi untuk mengurangi jarak tempuh masyarakat sekaligus mengurai antrean kendaraan di SPBU yang selama ini menjadi tujuan utama pembelian BBM subsidi.


