Pedagang Pasar Pagi Keluhkan Sepinya Pembeli, Jualan Online Jadi Cara Bertahan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Sepinya pembeli di Pasar Pagi Samarinda dikeluhkan pedagang, Rabu (17/6/2026) (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Sepinya pembeli di Pasar Pagi Samarinda dikeluhkan pedagang, Rabu (17/6/2026) (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Pedagang Pasar Pagi Keluhkan Sepinya Pembeli, Jualan Online Jadi Cara Bertahan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Sepinya pembeli di Pasar Pagi Samarinda dikeluhkan pedagang, Rabu (17/6/2026) (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Sepinya pembeli di Pasar Pagi Samarinda dikeluhkan pedagang, Rabu (17/6/2026) (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Pedagang Pasar Pagi Keluhkan Sepinya Pembeli, Jualan Online Jadi Cara Bertahan

Sepinya pembeli di Pasar Pagi Samarinda dikeluhkan pedagang, Rabu (17/6/2026) (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin 

SAMARINDA – Lesunya daya beli masyarakat mulai dirasakan para pedagang di Pasar Pagi Samarinda. 

Meski telah menempati gedung baru yang lebih representatif, sejumlah pedagang mengaku penjualan belum menunjukkan peningkatan signifikan dan justru cenderung sepi dibanding harapan mereka.

Salah seorang pedagang pakaian, Amat mengatakan kondisi perdagangan saat ini jauh berbeda dibandingkan periode-periode ramai seperti menjelang Idulfitri.

Setelah momentum tersebut berlalu, jumlah pengunjung kembali menurun sehingga berdampak langsung pada omzet pedagang.
“Kalau dari segi penjualan memang beda. Sekarang sepi, pengunjung juga tidak banyak,” ujar Amat. 

Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya dirasakan oleh dirinya, tetapi juga oleh banyak pedagang lain yang berjualan di kawasan pasar terbesar di Samarinda tersebut.
Amat berharap ada langkah atau solusi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kembali kunjungan masyarakat ke Pasar Pagi.

Sebab, keberadaan gedung baru dinilai belum otomatis mendongkrak aktivitas perdagangan apabila jumlah pembeli tidak bertambah.

Di tengah kondisi tersebut, para pedagang terpaksa mencari cara lain untuk mempertahankan usaha. Salah satu strategi yang kini banyak dilakukan adalah memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk menjangkau konsumen.

Penjualan melalui media sosial dan aplikasi digital dinilai menjadi alternatif untuk menutupi menurunnya transaksi langsung di kios.

Meski demikian, cara tersebut belum sepenuhnya mampu menggantikan potensi penjualan yang biasanya diperoleh dari kunjungan pembeli ke pasar.

Amat mengaku kondisi penjualan sempat membaik menjelang Lebaran lalu. Tapi, peningkatan tersebut hanya berlangsung dalam waktu singkat karena didorong kebutuhan masyarakat menyambut hari raya.

“Kalau menjelang Lebaran kemarin lumayan ramai. Tapi itu saja momennya, setelah itu kembali biasa lagi,” ungkapnya.

Fenomena sepinya aktivitas perdagangan di pasar tradisional belakangan juga sejalan dengan berbagai indikator yang menunjukkan masyarakat semakin berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. 

Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih membuat banyak warga lebih selektif dalam berbelanja dan memprioritaskan kebutuhan pokok.

Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku usaha kecil, termasuk pedagang pasar tradisional yang selama ini mengandalkan transaksi harian sebagai sumber pendapatan utama.

Di tengah tekanan tersebut, para pedagang berharap aktivitas ekonomi masyarakat dapat kembali bergairah sehingga daya beli meningkat dan pasar tradisional kembali ramai seperti sebelumnya. 

Sebab bagi mereka, ramainya pengunjung tetap menjadi faktor utama yang menentukan keberlangsungan usaha.
“Rata-rata pedagang sekarang jualan online. Kalau tidak online, susah juga,” pungkas Amat.