Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin
SAMARINDA – Warga Kalimantan Timur (Kaltim) khususnya Samarinda harus bersiap menghadapi hujan dalam beberapa pekan ke depan.
Meski intensitas hujan masih tergolong cukup tinggi, tapi kondisi ini bukan pertanda wilayah ini akan mengalami kemarau basah pada 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda justru memprediksi musim kemarau tahun ini berlangsung normal, bahkan berpotensi datang lebih cepat dibandingkan biasanya di sejumlah wilayah.
Prakirawan Cuaca BMKG Samarinda, Wiwi Indasari menjelaskan, hingga 20 Juni 2026 curah hujan di Samarinda masih berada pada kategori menengah dengan intensitas berkisar 50 hingga 150 milimeter.
Sifat hujannya pun tercatat di atas normal atau lebih basah dibandingkan rata-rata dari biasanya.
Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menandakan kemarau basah akan terjadi di Kaltim.
"Untuk perkiraan musim kemarau sendiri masih normal seperti biasanya. Bahkan di beberapa wilayah diprakirakan awal musim kemarau datang lebih cepat dari normal," ujar Wiwi.
Ia mengatakan hujan yang masih sering turun saat ini merupakan bagian dari fase peralihan musim atau pancaroba.
Periode transisi tersebut diperkirakan berlangsung pada akhir Juni hingga pertengahan Juli 2026.
Dalam masa pergantian musim itu, cuaca cenderung sulit diprediksi. Langit yang cerah pada pagi hari bisa berubah menjadi hujan deras pada siang atau sore hari.
"Di musim peralihan masih sangat memungkinkan terjadi hujan. Hal ini karena adanya pergantian sirkulasi angin dari Monsun Asia menuju Monsun Australia yang menjadi penanda masuknya musim kemarau," jelasnya.
Tak hanya itu, pertemuan massa udara dan terbentuknya pusat tekanan rendah juga dapat memicu pertumbuhan awan hujan yang berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem dalam durasi singkat.
Untuk itu, BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak lengah meski musim kemarau mulai mendekat. Hujan lebat, petir, hingga angin kencang masih berpotensi terjadi selama periode pancaroba berlangsung.
Apalagi, kata dia, posisi Kaltim yang berada di sekitar garis khatulistiwa membuat pola musim di wilayah ini sangat dipengaruhi berbagai faktor atmosfer, baik lokal maupun global.
Fenomena seperti El Nino dan La Nina menjadi beberapa faktor yang dapat mempengaruhi cepat atau lambatnya pergantian musim.
Saat ini, sejumlah indikator iklim menunjukkan kondisi yang mendukung datangnya musim kemarau lebih awal.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa jika kemarau terjadi, bukan berarti hujan akan hilang sepenuhnya.
Hanya saja frekuensi dan intensitasnya lebih rendah dan dengan kata lain, warga Samarinda dan daerah lain di Kaltim masih akan sesekali ditemani hujan dalam beberapa bulan mendatang.
Tapi secara umum, BMKG memastikan musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung normal dan tidak mengarah pada fenomena kemarau basah yang kerap memicu curah hujan tinggi sepanjang musim kering.
"Jadi hujan juga masih bisa terjadi selama musim kemarau dengan intensitas lebih rendah," pungkasnya.


