Produksi Kakao Karangan Ilir Capai 150 Ton Per Tahun, Pemdes Dorong Fermentasi untuk Tingkatkan Pendapatan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman saat melakukan pemotongan pita. (Foto: Dok Prokopim Kutim)
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman saat melakukan pemotongan pita. (Foto: Dok Prokopim Kutim)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Produksi Kakao Karangan Ilir Capai 150 Ton Per Tahun, Pemdes Dorong Fermentasi untuk Tingkatkan Pendapatan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman saat melakukan pemotongan pita. (Foto: Dok Prokopim Kutim)
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman saat melakukan pemotongan pita. (Foto: Dok Prokopim Kutim)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Produksi Kakao Karangan Ilir Capai 150 Ton Per Tahun, Pemdes Dorong Fermentasi untuk Tingkatkan Pendapatan

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman saat melakukan pemotongan pita. (Foto: Dok Prokopim Kutim)

Reporter: Siswandi | Editor: Buniyamin 

SANGATTA – Pemerintah Desa (Pemdes) Karangan Ilir, Kecamatan Karangan, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus mendorong peningkatan kualitas hasil perkebunan kakao melalui pengembangan biji kakao fermentasi. 

Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah dan pendapatan petani dari komoditas unggulan desa yang memiliki produksi mencapai 150 ton kakao kering per tahun.

Kepala Desa Karangan Ilir, Jabir mengatakan wilayahnya memiliki sekitar 140 hektare lahan produktif kakao yang dikelola masyarakat.

Namun, peningkatan produksi saja belum cukup tanpa diiringi peningkatan kualitas hasil panen.

Ia menjelaskan, pemerintah desa saat ini fokus mendorong petani mengolah hasil panen menjadi biji kakao fermentasi yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding kakao non-fermentasi.

“Pekerjaan rumah besar kita ke depan adalah bagaimana produksi yang mencapai 150 ton per tahun itu seluruhnya bisa beralih menjadi biji kakao fermentasi seperti yang kita kirimkan hari ini,” kata Jabir usai menghadiri peluncuran ekspor antardaerah di Kantor Bupati Kutim.

Menurutnya, perubahan pola pengolahan kakao membutuhkan proses yang tidak singkat. Selama dua tahun terakhir, pemerintah desa bersama berbagai pihak terus melakukan pendampingan dan edukasi kepada petani mengenai manfaat fermentasi.

Hasilnya, jumlah petani yang menerapkan metode tersebut terus meningkat. Jika sebelumnya belum ada petani yang memproduksi kakao fermentasi, maka kini sekitar 30 hingga 40 persen petani telah beralih.

“Dua tahun lalu belum ada yang melakukan fermentasi. Sekarang sudah sekitar 30 sampai 40 persen petani yang beralih,” ujarnya.

Jabir menuturkan, salah satu faktor yang mendorong perubahan tersebut adalah selisih harga yang cukup besar. 

Biji kakao fermentasi dapat dihargai lebih tinggi karena kualitasnya lebih baik dan lebih diminati industri pengolahan cokelat.

“Selisih harga antara kakao biasa dan kakao fermentasi bisa mencapai Rp20 ribu per kilogram. Itu yang membuat petani mulai tertarik,” katanya.

Saat ini, kelompok petani di Karangan Ilir telah menjalin kerja sama pasokan kakao fermentasi dengan PT Rasantara Citra Pangan di Bandung. Pengiriman dilakukan secara rutin dengan target sekitar 2 ton per bulan.

Menurut Jabir, pengiriman perdana sebanyak 2 ton tersebut memiliki nilai ekonomi yang cukup besar bagi petani setempat.

“Pengiriman 2 ton ini jika diuangkan nilainya sekitar Rp200 juta. Hanya satu mobil kecil, tetapi nilai ekonominya sangat besar bagi masyarakat,” pungkasnya.