Reporter: Siswandi | Editor: Bambang Irawan
SANGATTA – Keterbatasan modal usaha dan akses pemasaran masih menjadi hambatan terbesar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim).
Kondisi tersebut membuat banyak pelaku usaha lokal belum mampu memperluas skala bisnis maupun menembus pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kutim, Marhadin mengatakan mayoritas produk UMKM di Kutim sebenarnya memiliki kualitas yang mampu bersaing.
Namun, keterbatasan permodalan dan minimnya jaringan pemasaran masih menjadi persoalan yang kerap dihadapi para pelaku usaha.
Menurutnya, salah satu indikator UMKM dapat naik kelas adalah kemampuan usaha dalam meningkatkan kapasitas permodalan serta memperbesar perputaran usaha secara berkelanjutan.
“Kalau kita bicara UMKM naik kelas, artinya UMKM bisa bangkit dari keterpurukan dan mampu melakukan perputaran modal yang lebih besar dari sebelumnya,” kata Marhadin Kamis, (18/6/2026).
Untuk membantu mengatasi persoalan tersebut, pemerintah daerah berupaya memfasilitasi akses pembiayaan melalui berbagai program bantuan dan peningkatan literasi keuangan bagi pelaku UMKM.
Menurut Marhadin, pemahaman mengenai pengelolaan keuangan dan akses terhadap lembaga pembiayaan menjadi faktor penting agar pelaku usaha dapat memperoleh tambahan modal untuk mengembangkan usahanya.
“Bagaimana penambahan modal itu mampu kita fasilitasi, baik bantuan dari pemerintah maupun literasi keuangan agar mereka bisa mengakses sumber-sumber pembiayaan,” ujarnya.
Selain persoalan modal, akses pemasaran juga menjadi tantangan yang banyak disampaikan oleh pelaku UMKM di Kutim.
Produk lokal yang memiliki kualitas baik masih menghadapi kesulitan untuk menembus pasar yang lebih luas.
Marhadin mencontohkan produk amplang yang diproduksi UMKM Kutim. Menurutnya, produk tersebut memiliki peluang besar untuk dipasarkan hingga ke luar negeri karena telah mendapat perhatian dari calon pasar internasional.
“Potensinya sebenarnya besar. Bahkan untuk produk amplang ada ketertarikan dari pasar di Eropa. Hanya saja untuk mengakses pasar seperti itu sangat sulit bagi pelaku UMKM,” ungkapnya.
Melihat kondisi tersebut, Dinas Koperasi dan UMKM Kutim terus berupaya membuka peluang pemasaran yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal, baik melalui promosi di tingkat nasional maupun penjajakan pasar internasional.
Ia menilai produk-produk UMKM Kutim memiliki daya saing yang cukup baik dan sebagian sudah dikenal di luar negeri.
Karena itu, dukungan terhadap permodalan serta perluasan akses pasar dinilai menjadi langkah penting untuk mendorong peningkatan omzet dan pengembangan usaha.
“Produk UMKM kita sudah dikenal hingga mancanegara. Tinggal bagaimana permodalannya kita bantu dan akses pasarnya kita fasilitasi agar mereka bisa berkembang lebih besar,” tutupnya.


