Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin
TANJUNG REDEB – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau mulai menggeser arah pengembangan sektor perkebunan dari sekadar produksi menuju pengolahan hasil.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan komoditas unggulan daerah mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar sebelum dipasarkan ke luar daerah.
Selama ini, hasil perkebunan seperti kakao dan kelapa sebagian besar masih dijual dalam bentuk mentah.
Pola tersebut dinilai membuat peluang keuntungan yang lebih besar justru dinikmati oleh daerah lain yang memiliki fasilitas pengolahan dan industri lanjutan.
Melihat kondisi tersebut, Pemkab Berau melalui Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) mulai mendorong lahirnya industri berbasis bahan baku lokal.
Kehadiran industri pengolahan diharapkan dapat memperpanjang rantai usaha sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi baru di daerah.
Kepala Bidang Perindustrian Diskoperindag Berau, Reta Noratni, menyebut terdapat tiga komoditas yang menjadi perhatian pemerintah dalam pengembangan sektor industri, yakni kakao, kelapa, dan jagung.
Namun,untuk saat ini pengembangan masih difokuskan pada dua komoditas pertama.
“Prioritas kita sekarang ada pada kakao dan kelapa. Dua komoditas ini memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk turunan,” katanya.
Menurut Reta, hilirisasi menjadi langkah penting agar hasil perkebunan tidak hanya berhenti di tingkat petani.
Dengan adanya pengolahan lanjutan, produk yang dihasilkan akan memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan mampu meningkatkan daya saing daerah.
Ia menilai keberadaan industri pengolahan akan membawa dampak yang luas bagi perekonomian Berau. Tak hanya membuka peluang pasar baru bagi petani, tetapi juga berpotensi menghadirkan lapangan kerja dan mendorong tumbuhnya pelaku usaha baru di sektor industri.
“Ketika proses pengolahan dilakukan di Berau, maka manfaat ekonominya juga akan lebih banyak dirasakan masyarakat setempat,” ujarnya.
Selain memperkuat sektor industri, kebijakan tersebut juga diharapkan mampu menarik minat investor untuk menanamkan modal pada usaha berbasis sumber daya alam yang tersedia melimpah di Berau.
Sementara komoditas jagung masih belum masuk dalam tahap implementasi program hilirisasi. Pemerintah daerah saat ini masih melakukan pemetaan terhadap berbagai aspek pendukung sebelum menentukan langkah pengembangan yang lebih konkret.
“Untuk jagung masih dalam tahap kajian. Nantinya akan kita bahas lebih lanjut ketika seluruh kesiapannya sudah terpenuhi,” jelasnya.
Melalui strategi ini, Pemkab Berau ingin membangun ekonomi yang tidak hanya bertumpu pada penjualan hasil panen.
Industri pengolahan diyakini dapat menjadi jalan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi daerah dalam jangka panjang. (Adv)



