Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin
SAMARINDA – Empat destinasi wisata di Samarinda tahun ini mendapat pendampingan intensif sekitar lima bulan lamanya untuk memperkuat daya tarik wisata sekaligus meningkatkan kemampuan pengelola dalam melayani pengunjung.
Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Samarinda terus berupaya meningkatkan kualitas destinasi wisata melalui program pendampingan yang melibatkan akademisi dan praktisi pariwisata.
Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Disporapar Samarinda, Diana Pida Juliadi mengatakan empat destinasi yang mendapatkan pendampingan tersebut adalah Desa Budaya Pampang, Bukit Steling, Kampung Tenun Samarinda dan Kampung Ketupat.
"Tujuannya agar destinasi wisata bisa lebih berkembang, mampu menarik lebih banyak wisatawan, dan memberikan pengalaman yang berkesan bagi pengunjung," jelas Diana, Jumat (19/6/2026).
Program tersebut tidak hanya berfokus pada promosi destinasi, tetapi juga memberikan pembekalan kepada pengelola mengenai cara mengemas potensi wisata yang dimiliki agar lebih menarik dan memiliki nilai edukasi.
Di Kampung Tenun Samarinda, misalnya, pengelola didorong untuk memberikan pengalaman langsung kepada wisatawan melalui edukasi proses pembuatan sarung tenun khas Samarinda. Dengan demikian, pengunjung tidak hanya membeli produk, tetapi juga memahami proses dan nilai budaya di balik kerajinan tersebut.
"Jadi mereka tidak hanya mengetahui dari cerita atau media, tetapi mendapatkan pengalaman secara langsung," jelasnya.
Pendampingan serupa juga dilakukan di Kampung Ketupat. Di destinasi berbasis budaya tersebut, wisatawan diperkenalkan pada proses pembuatan ketupat mulai dari tahap awal hingga siap disajikan sebagai kuliner khas.
Pengunjung juga dapat mengenal berbagai potensi kuliner lokal yang berkembang di kawasan tersebut, termasuk menu yang menjadi ciri khas masyarakat setempat.
Sementara Bukit Steling, pendampingan difokuskan pada pengembangan wisata alam serta peningkatan kualitas pelayanan kepada wisatawan. Disporapar menggandeng akademisi untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada para pengelola destinasi.
Selain meningkatkan kualitas pelayanan, para pengelola juga mendapatkan pelatihan terkait cara menerima tamu, teknik komunikasi, hingga strategi memperkuat potensi ekonomi lokal melalui pengembangan kuliner dan produk UMKM di sekitar destinasi.
Menurut Diana, pendampingan tersebut menjadi salah satu bentuk komitmen pemerintah kota dalam membangun sektor pariwisata berbasis masyarakat.
Dengan peningkatan kapasitas pengelola, destinasi wisata diharapkan tidak hanya mampu menarik kunjungan wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar.
Bukit steling juga telah berhasil menarik perhatian Kementerian Pariwisata hingga masuk dalam nominasi 10 besar Anugerah Pesona Indonesia (API) 2026. Menurutnya hal itu juga menjadi salah satu bentuk keberhasilan dari pembinaan serta pengembangan wisata yang telah dilakukan selama ini.
"Harapannya, destinasi yang didampingi bisa terus berkembang dan menjadi tujuan wisata unggulan yang mampu memperkenalkan budaya serta potensi lokal Samarinda kepada wisatawan," pungkasnya.


