Lahan Kian Menyempit, Urban Farming Jadi Solusi Jaga Ketahanan Pangan Kota

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Anggota Komisi II DPRD Balikpapan, Japar Sidik. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Anggota Komisi II DPRD Balikpapan, Japar Sidik. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Lahan Kian Menyempit, Urban Farming Jadi Solusi Jaga Ketahanan Pangan Kota

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Anggota Komisi II DPRD Balikpapan, Japar Sidik. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Anggota Komisi II DPRD Balikpapan, Japar Sidik. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Lahan Kian Menyempit, Urban Farming Jadi Solusi Jaga Ketahanan Pangan Kota

Anggota Komisi II DPRD Balikpapan, Japar Sidik. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin

BALIKPAPAN - Anggota Komisi II DPRD Balikpapan, Japar Sidik menyoroti fenomena menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian. 

Menurutnya, banyak generasi muda dari desa yang memilih merantau untuk menempuh pendidikan di kota, tapi enggan kembali ke daerah asal mereka untuk bertani karena menganggap sektor lain lebih menjanjikan secara finansial.

"Kesan yang timbul saat ini adalah pertanian mulai ditinggalkan. Alhasil, banyak lahan pertanian di desa-desa kini berubah fungsi menjadi kawasan industri, seperti yang marak terlihat di Pulau Jawa," ucap Japar, Sabtu (20/6/2026).

Ia menilai pergeseran ini terjadi karena sektor industri menawarkan penghasilan yang dianggap lebih besar dan pasti. 

Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengancam status swasembada pangan Indonesia dan meningkatkan ketergantungan pada impor jika tidak segera diantisipasi. 

Ia pun mendukung langkah Kementerian Pertanian yang mendorong sarjana pertanian untuk turun ke daerah melalui program diversifikasi guna meningkatkan produktivitas.

Guna menarik kembali minat generasi muda, Japar menegaskan pentingnya sentuhan inovasi di sektor pertanian. 

Salah satu langkah konkretnya adalah mempersingkat masa panen dan menerapkan teknik-teknik modern.

"Perlu ada inovasi. Jika dulu panen butuh waktu enam bulan, bagaimana caranya dipercepat menjadi tiga bulan agar perputaran pendapatan petani bisa lebih cepat. Ini bisa dicapai melalui diversifikasi bibit unggul atau optimalisasi metode pemupukan," jelasnya.

Lebih lanjut, Japar memberikan contoh inovasi di luar negeri, seperti di Jepang, di mana masyarakat memanfaatkan ruang terbatas hingga ke atap rumah untuk dijadikan lahan persawahan. 

Berkaca dari hal tersebut, ia mendorong penerapan metode urban farming atau pertanian perkotaan, khususnya untuk wilayah perkotaan seperti Balikpapan yang lahannya semakin menyempit.

"Di kota, kita harus jeli membaca peluang. Gunakan metode urban farming sebagai solusi keterbatasan lahan. Intinya, potensi pertanian itu besar, tergantung bagaimana masyarakat dan pemerintah mau memaksimalkannya serta memastikan tidak ada lagi lahan tidur yang sia-sia," pungkasnya.