Petani Kutim Cari Solusi Hama Pisang, PENAS 2026 Jadi Ajang Berburu Inovasi

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Suasana ajang keberangkatan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo. (Foto: Dok Prokopim Kutim)
Suasana ajang keberangkatan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo. (Foto: Dok Prokopim Kutim)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Petani Kutim Cari Solusi Hama Pisang, PENAS 2026 Jadi Ajang Berburu Inovasi

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Suasana ajang keberangkatan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo. (Foto: Dok Prokopim Kutim)
Suasana ajang keberangkatan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo. (Foto: Dok Prokopim Kutim)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Petani Kutim Cari Solusi Hama Pisang, PENAS 2026 Jadi Ajang Berburu Inovasi

Suasana ajang keberangkatan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo. (Foto: Dok Prokopim Kutim)

Reporter: Siswandi | Editor: Buniyamin 

SANGATTA – Ancaman hama tanaman masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi petani hortikultura di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). 

Kondisi tersebut mendorong sejumlah petani memanfaatkan ajang Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo sebagai ruang belajar untuk mencari teknologi dan metode pengendalian yang lebih efektif.

Salah satu petani yang akan mengikuti kegiatan tersebut adalah Muhammad Nawir, petani asal Kecamatan Kaliorang. 

Ia menilai pertemuan ribuan petani, penyuluh, akademisi dan pelaku usaha pertanian dari berbagai daerah dapat menjadi kesempatan untuk bertukar pengalaman sekaligus mempelajari inovasi yang telah diterapkan di daerah lain.

Menurut Nawir, tantangan terbesar yang masih dihadapi kelompok tani di wilayahnya adalah serangan hama pada tanaman pisang. 

Meski penanganan yang dilakukan selama ini mulai menunjukkan hasil, petani masih membutuhkan pengetahuan dan teknologi yang lebih modern agar produktivitas kebun tetap terjaga.

“Apa ingin saya pelajari, terutama bagaimana daerah lain menangani hama tanaman pisang. Kalau ada teknologi atau metode yang lebih efektif, tentu bisa diterapkan dan dibagikan kepada petani lain di Kaliorang," ujarnya.

Selain membawa pengalaman lapangan, Nawir juga memperkenalkan salah satu komoditas unggulan daerahnya berupa pisang grecek.

Komoditas tersebut dinilai memiliki potensi ekonomi karena mampu tumbuh dengan ukuran tandan yang relatif besar dan produktivitas yang cukup baik.

Persoalan hama tanaman bukan satu-satunya isu yang menjadi perhatian sektor pertanian Kutim.

Di tengah luasnya areal perkebunan kelapa sawit yang dimiliki daerah ini, upaya hilirisasi produk perkebunan masih dinilai belum optimal.

Hingga kini, Kutim belum memiliki pabrik minyak goreng skala mini berbasis koperasi yang dapat menjadi sarana pengolahan hasil sawit masyarakat. 

Padahal, gagasan pengembangan industri pengolahan skala kecil tersebut telah diperkenalkan pemerintah pusat sejak beberapa tahun terakhir sebagai salah satu upaya meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan daerah dalam memanfaatkan potensi perkebunan yang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. 

Sejumlah pihak menilai pengembangan industri hilir menjadi langkah penting agar daerah tidak hanya bergantung pada penjualan bahan baku.

Di sisi lain, tren pertumbuhan sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan di Kutim menunjukkan perkembangan yang cukup positif dalam beberapa tahun terakhir. 

Tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut diikuti dengan peningkatan produktivitas, penerapan teknologi, serta penguatan kelembagaan petani.

Melalui forum seperti PENAS, petani diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga mampu membawa pulang gagasan yang dapat diterapkan secara nyata di tingkat kelompok tani. 

Inovasi pengendalian hama, digitalisasi pertanian hingga pengembangan industri hilir menjadi isu yang dinilai penting untuk menjawab kebutuhan sektor pertanian Kutim ke depan.