Pemkot Kaji Pola Pergerakan Pengunjung Pasar Pagi, Muncul Wacana Penambahan Eskalator di Lantai Dasar

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Pasar Pagi Samarinda dari sisi Jalan Jenderal Sudirman. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Pasar Pagi Samarinda dari sisi Jalan Jenderal Sudirman. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Pemkot Kaji Pola Pergerakan Pengunjung Pasar Pagi, Muncul Wacana Penambahan Eskalator di Lantai Dasar

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Pasar Pagi Samarinda dari sisi Jalan Jenderal Sudirman. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Pasar Pagi Samarinda dari sisi Jalan Jenderal Sudirman. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Pemkot Kaji Pola Pergerakan Pengunjung Pasar Pagi, Muncul Wacana Penambahan Eskalator di Lantai Dasar

Pasar Pagi Samarinda dari sisi Jalan Jenderal Sudirman. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan 

SAMARINDA – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terus menganalisis pola pergerakan masyarakat di kawasan Pasar Pagi yang telah direvitalisasi. 

Dari hasil pengamatan, sebagian pengunjung diketahui masih enggan menggunakan fasilitas lift karena sejumlah alasan, seperti antrean yang padat hingga kondisi lift yang dianggap kerap penuh pada jam-jam tertentu.

Asisten II Sekretariat Daerah Kota Samarinda, Marnabas, mengatakan evaluasi tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh fasilitas di Pasar Pagi dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Menurutnya, perilaku pengunjung setelah revitalisasi menunjukkan adanya perbedaan dengan skema perencanaan awal bangunan.

Marnabas menjelaskan, dalam desain awal, mobilitas pengunjung sudah diatur agar dapat berjalan efisien melalui fasilitas lift dan eskalator yang menghubungkan area parkir dengan lantai-lantai pasar. Namun dalam praktiknya, preferensi masyarakat cenderung terpusat pada akses tertentu.

Akibatnya, terjadi penumpukan pada jalur dan fasilitas tertentu, sementara akses lain belum dimanfaatkan secara merata.

Selain faktor antrean, sebagian pengunjung juga disebut masih merasa kurang nyaman menggunakan lift sehingga memilih jalur lain yang dianggap lebih sederhana, meski berpotensi menimbulkan kepadatan.

"Kami melihat ada kecenderungan masyarakat lebih memilih jalur yang sudah familiar seperti naik tangga. Ini yang sedang kami evaluasi agar distribusi pergerakan pengunjung bisa lebih merata," jelas Marnabas.

Sebagai tindak lanjut, Pemkot membuka peluang penambahan fasilitas eskalator di sejumlah titik strategis, baik di bagian depan maupun belakang bangunan Pasar Pagi. Penambahan ini diharapkan dapat memperlancar arus pengunjung sekaligus mengurangi ketergantungan pada lift.

Marnabas menambahkan, opsi penambahan fasilitas tersebut masih akan dikaji lebih lanjut berdasarkan hasil evaluasi teknis di lapangan serta kebutuhan riil pengunjung.

"artinya kita bisa saja mengusulkan ke pimpinan buatkan jalur eskalator karena banyak juga yang takut naik lift," pungkasnya.