Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin
TANJUNG REDEB – Wacana menghadirkan kapal pinisi sebagai ikon wisata bahari Kabupaten Berau mulai menunjukkan perkembangan positif.
Setelah beberapa waktu dipromosikan sebagai peluang investasi, kini proyek tersebut dikabarkan telah menarik minat pihak swasta yang ingin mengembangkan wisata premium di kawasan Kepulauan Derawan.
Kepala DPMPTSP Berau, Nanang Bakran mengungkapkan, dirinya dijadwalkan kembali mempresentasikan potensi investasi kapal pinisi dalam waktu dekat.
Langkah itu dilakukan menyusul adanya ketertarikan dari pelaku usaha yang telah memiliki pengalaman mengoperasikan kapal wisata serupa.
“Alhamdulillah sudah ada yang tertarik. Mereka sebelumnya beroperasi di Kalimantan Selatan dan karena kontraknya berakhir, ada keinginan untuk mengembangkan usaha wisata kapal pinisi di Berau,” ungkap Nanang.
Menurutnya, konsep wisata kapal pinisi yang ditawarkan Berau berbeda dengan wisata laut pada umumnya. Selain menyuguhkan pengalaman berlayar mengelilingi destinasi eksotis seperti Derawan, Maratua, Kakaban hingga Sangalaki, wisatawan juga akan diajak menikmati konsep wisata berkelanjutan yang mengedepankan konservasi lingkungan dan budaya lokal.
Nanang menjelaskan, segmen pasar yang dibidik memang merupakan wisatawan kelas menengah ke atas yang mencari pengalaman eksklusif selama berlibur.
“Pasarnya memang wisata premium. Konsepnya bukan wisata massal, tetapi wisata yang lebih terkontrol sehingga aspek lingkungan dan konservasi tetap terjaga,” katanya.
Dari sisi kesiapan daerah, Nanang menilai Berau sudah memiliki modal infrastruktur yang cukup memadai. Sejumlah pelabuhan seperti Tanjung Batu dan Teluk Sulaiman dinilai layak menjadi titik sandar maupun keberangkatan kapal wisata.
Bahkan, beberapa kapal pinisi dari luar daerah disebut sudah pernah beroperasi dan bersandar di wilayah perairan Berau.
“Secara fisik sebenarnya kita sudah siap. Pelabuhan kita layak dan beberapa kapal pinisi juga sudah pernah masuk ke kawasan Derawan dan Maratua. Tinggal menyesuaikan beberapa regulasi yang diperlukan,” jelasnya.
Saat ini komunikasi dengan calon investor masih berlangsung dalam tahap penjajakan. Pemerintah daerah juga terus melakukan promosi peluang investasi tersebut melalui berbagai forum investasi yang tersedia.
Nanang mengakui kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil turut memengaruhi pergerakan investasi, termasuk minat sektor swasta untuk melakukan ekspansi usaha. Meski demikian, pihaknya tetap optimistis peluang investasi wisata bahari di Berau masih sangat terbuka.
“Kondisi ekonomi memang menjadi tantangan, tetapi kami tetap berusaha. Potensi wisata Berau sangat besar dan kami berharap ada perkembangan positif dalam waktu dekat,” ujarnya.
Jika terealisasi, naka kapal pinisi diproyeksikan menjadi ikon baru wisata bahari Berau. Selain menawarkan pengalaman menginap di atas laut, keberadaannya juga diyakini mampu meningkatkan kunjungan wisatawan, menggerakkan UMKM pesisir, serta membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.
“Yang terpenting, wisata ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga mendukung pelestarian lingkungan dan menjadi daya tarik baru bagi wisatawan yang datang ke Berau,” pungkasnya. (Adv)



