Reporter: Siswandi | Editor: Buniyamin
SANGATTA – Rencana pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar. Salah satu komoditas yang diprediksi mengalami lonjakan permintaan adalah tahu dan tempe.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kutim, Marhadin mengatakan program MBG yang direncanakan hadir di sekitar 100 titik layanan akan menciptakan pasar baru bagi pelaku usaha mikro dan kecil di daerah.
Menurutnya, kebutuhan bahan pangan untuk mendukung operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akan berlangsung secara rutin, sehingga membuka peluang usaha yang cukup menjanjikan bagi masyarakat.
"Berdasarkan hasil pembahasan dengan para kepala desa, akan ada sekitar 100 titik MBG yang tersebar, termasuk di wilayah 3T. Ini tentu menjadi peluang usaha yang sangat besar," ujarnya.
Ia mengatakan tahu dan tempe diperkirakan menjadi salah satu menu yang cukup sering digunakan dalam paket makanan bergizi. Dalam sepekan, kedua bahan pangan tersebut berpotensi disajikan dua hingga tiga kali sebagai sumber protein nabati.
Kondisi itu, kata dia, perlu diantisipasi sejak dini agar peningkatan kebutuhan untuk MBG tidak mengganggu ketersediaan pasokan di pasar umum.
Marhadyn menilai jika seluruh titik MBG mulai beroperasi tanpa diimbangi peningkatan produksi, maka dikhawatirkan sebagian kebutuhan pasar akan terserap untuk memenuhi permintaan SPPG.
"Jangan sampai ketika seluruh titik MBG berjalan, pasokan tahu dan tempe yang ada justru tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat karena sebagian besar terserap untuk program tersebut," katanya.
Untuk mengantisipasi hal itu, Dinas Koperasi dan UKM mendorong masyarakat memanfaatkan momentum dengan membuka atau mengembangkan usaha produksi tahu dan tempe. Pemerintah daerah siap memberikan pendampingan serta fasilitasi kepada calon pelaku usaha.
Selain itu, sejumlah pengelola SPPG disebut telah menyampaikan kebutuhan akan pasokan bahan pangan lokal yang berkelanjutan guna mendukung pelaksanaan program MBG.
"Kalau ada masyarakat yang ingin mengembangkan usaha tahu dan tempe, tentu akan kami dorong dan dampingi. Pasarnya sudah tersedia dan kebutuhannya cukup besar," ujarnya.
Ia menambahkan, manfaat program MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga berpotensi menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah melalui keterlibatan UMKM lokal.
Menurutnya, peluang usaha yang muncul tidak hanya terbatas pada produksi tahu dan tempe, melainkan juga berbagai komoditas pangan lainnya yang dibutuhkan dalam rantai pasok MBG.
Karena itu, pemerintah berharap pelaku UMKM di Kutai Timur dapat mengambil peran sebagai pemasok kebutuhan program sehingga manfaat ekonomi yang tercipta dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.
"Harapannya, masyarakat Kutim menjadi pelaku utama dalam rantai pasok MBG dan dapat menikmati manfaat ekonomi dari program ini," pungkasnya.


