Reporter: Lutfi Aziz | Editor: Bambang Irawan
BONTANG – Pemerintah Kota Bontang menargetkan hadirnya petugas pendamping kesehatan mental atau First Aider Mental Health di setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kesehatan mental aparatur sipil negara (ASN) sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan produktif.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Sosialisasi Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) di Tempat Kerja yang diselenggarakan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bontang, dr. Toetoek Pribadi Ekowati, yang mewakili Wali Kota Bontang, menyampaikan bahwa kesehatan mental telah ditetapkan sebagai salah satu program prioritas pemerintah daerah dalam periode pembangunan 2025–2029.
Menurutnya, perhatian terhadap kesehatan jiwa menjadi langkah strategis untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas menghadapi bonus demografi pada 2030.
“Pemerintah Kota Bontang berkomitmen untuk membangun sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan berdaya saing. Kesehatan mental merupakan fondasi penting dalam mewujudkan tujuan tersebut,” ujar Toetoek saat membacakan sambutan Wali Kota Bontang, Selasa (23/6/2026).
Melalui program tersebut, setiap OPD diharapkan memiliki ASN yang dibekali kemampuan dasar mengenali tanda-tanda tekanan psikologis di lingkungan kerja. Mereka nantinya berperan memberikan dukungan awal kepada rekan kerja yang mengalami masalah emosional sebelum mendapatkan penanganan profesional.
Keberadaan first aider kesehatan mental dinilai penting mengingat tingginya tekanan pekerjaan yang dapat memengaruhi kondisi psikologis pegawai. Dengan deteksi dini dan pendampingan awal, risiko berkembangnya gangguan kesehatan jiwa dapat diminimalkan.
Selain pembekalan materi P3LP, kegiatan juga diisi dengan penandatanganan komitmen bersama antara Dinas Kesehatan, kepala OPD, camat, dan lurah untuk mendukung implementasi program kesehatan mental di lingkungan kerja.
Pemkot Bontang berharap langkah tersebut mampu membangun budaya kerja yang lebih adaptif, humanis, dan saling mendukung. Kesehatan mental tidak lagi dipandang sebagai isu pribadi, melainkan menjadi bagian penting dalam tata kelola organisasi pemerintahan.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bontang, Sudirman, melaporkan kegiatan tersebut diikuti sekitar 50 peserta yang berasal dari OPD, kecamatan, kelurahan, serta berbagai pemangku kepentingan sektor kesehatan.
Melalui penguatan kapasitas ASN dan pembentukan first aider kesehatan mental, Pemkot Bontang berharap kualitas pelayanan publik dapat semakin meningkat karena didukung aparatur yang sehat secara fisik maupun psikologis.


