UMKM Kutim Dinilai Jadi Jalan Diversifikasi Ekonomi di Tengah Ketergantungan Sektor Tambang

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Ketua DPRD Kutim, Jimmi. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)
Ketua DPRD Kutim, Jimmi. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

UMKM Kutim Dinilai Jadi Jalan Diversifikasi Ekonomi di Tengah Ketergantungan Sektor Tambang

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Ketua DPRD Kutim, Jimmi. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)
Ketua DPRD Kutim, Jimmi. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

UMKM Kutim Dinilai Jadi Jalan Diversifikasi Ekonomi di Tengah Ketergantungan Sektor Tambang

Ketua DPRD Kutim, Jimmi. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)

Reporter: Siswandi | Editor: Buniyamin 

SANGATTA – Ketergantungan Kabupaten Kutai Timur terhadap sektor pertambangan dinilai perlu diimbangi dengan penguatan sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). 

Selain membuka lapangan usaha bagi masyarakat yang tidak terserap di industri tambang, pengembangan UMKM juga dianggap memiliki potensi mendorong produk lokal menembus pasar ekspor.

Ketua DPRD Kutim, Jimmi mengatakan masih besarnya cadangan batu bara di daerah bukan berarti seluruh masyarakat dapat memperoleh manfaat langsung melalui pekerjaan di sektor pertambangan. 

Untuk itu, sektor UMKM perlu menjadi salah satu penopang perekonomian daerah. "Kalau dilihat dari potensi tambang sebenarnya masih banyak. Tetapi tidak semua masyarakat kita bisa menjadi pekerja tambang, menjadi karyawan, operator dan sebagainya," ujar Jimmi.

Menurutnya, penguatan UMKM membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, Dinas Koperasi dan UKM, serta perusahaan swasta. Upaya tersebut harus diarahkan pada peningkatan kualitas produk dan kapasitas produksi agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

"Nah, yang kita harapkan ini adalah swasta bersama Dinas Koperasi membangun dan menguatkan sektor UMKM untuk melakukan peningkatan kualitas dan produksinya. Tentu sasarannya adalah ekspor," katanya.

Jimmi menilai peluang pasar ekspor terbuka bagi sejumlah produk unggulan Kutim. Namun, pelaku usaha masih memerlukan pendampingan untuk memenuhi berbagai persyaratan yang dibutuhkan, mulai dari perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), sertifikasi halal hingga standarisasi produk.

"Bagaimana UMKM ini bisa dibantu untuk mengarah ke sana, mulai dari HAKI-nya, label halalnya. Jadi pangsa pasar nasional dan internasional itu harus bisa dicapai," ucapnya.

Ia menyebut beberapa komoditas lokal yang memiliki prospek pengembangan, seperti olahan pisang dan nanas. Khusus nanas tidak hanya buahnya yang bernilai ekonomi, tetapi juga seratnya yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk industri.

"Banyak yang sudah berjalan, pisang misalnya, kemudian nanas. Potensi-potensi seperti ini yang harus terus dikembangkan," katanya.

Meski demikian, Jimmi mengakui mayoritas UMKM di Kutim saat ini masih berada pada skala usaha mikro yang berorientasi memenuhi kebutuhan pasar lokal. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri untuk meningkatkan kapasitas produksi agar mampu memenuhi permintaan pasar yang lebih besar.

Untuk itu, pembinaan berkelanjutan dinilai menjadi kunci agar UMKM tidak hanya bertahan di pasar lokal, tetapi juga mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional.

"Kita berharap partisipasi mereka bisa sampai merambah sektor-sektor ekspor. Tentu pada bidang-bidang apa saja nanti koperasi yang akan membimbing mereka untuk itu," pungkasnya.