Kehamilan Anak di Bawah Umur Jadi Alarm Disfungsi Keluarga di Bontang

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Ketua Lembaga Insan Cita Kota Bontang, Laela Siddiqah (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)
Ketua Lembaga Insan Cita Kota Bontang, Laela Siddiqah (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kehamilan Anak di Bawah Umur Jadi Alarm Disfungsi Keluarga di Bontang

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Ketua Lembaga Insan Cita Kota Bontang, Laela Siddiqah (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)
Ketua Lembaga Insan Cita Kota Bontang, Laela Siddiqah (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kehamilan Anak di Bawah Umur Jadi Alarm Disfungsi Keluarga di Bontang

Ketua Lembaga Insan Cita Kota Bontang, Laela Siddiqah (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Reporter : Lutfi Aziz | Editor : Buniyamin

BONTANG – Maraknya kasus kehamilan pada anak di bawah umur yang terungkap di Kota Bontang dinilai menjadi sinyal kuat adanya persoalan serius dalam lingkungan keluarga. 

Ketua Lembaga Insan Cita Kota Bontang, Laela Siddiqah menyebut fenomena tersebut tidak bisa dipandang sebagai persoalan individu semata, melainkan cerminan dari lemahnya fungsi keluarga dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Menurut Laela, keluarga memiliki peran utama dalam membentuk karakter, nilai kehidupan dan kemampuan anak dalam mengambil keputusan.
Ketika peran ayah dan ibu tidak berjalan secara utuh, maka anak berisiko kehilangan pegangan dalam menghadapi berbagai pengaruh dari lingkungan pergaulan. 

“Kasus kehamilan pada anak mencerminkan kondisi keluarga yang disfungsi. Anak membutuhkan figur orang tua yang hadir untuk membangun pondasi nilai dan karakter yang kuat,” ujarnya, Rabu (24/6/2026).

Ia menilai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini semakin kompleks seiring terbukanya akses informasi dan pergaulan.

Tanpa pengawasan serta komunikasi yang baik dari keluarga, anak rentan terjerumus pada perilaku yang berisiko

Dia menegaskan, keluarga harus kembali menjadi ruang pertama bagi anak untuk belajar mengenai tanggung jawab, etika, serta batasan dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial.

Selain itu, ia mengajak seluruh pihak untuk menjadikan meningkatnya kasus kehamilan anak sebagai bahan evaluasi bersama agar upaya pencegahan dapat dilakukan lebih efektif.

“Perlu keterlibatan semua pihak untuk memastikan anak tumbuh dalam lingkungan yang mendukung dan melindungi mereka dari berbagai risiko sosial,” pungkasnya.