Laela Soroti Lunturnya Kontrol Sosial dan Budaya Malu di Kasus Kehamilan Anak

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Ketua Lembaga Insan Cita Kota Bontang, Laela Siddiqah (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)
Ketua Lembaga Insan Cita Kota Bontang, Laela Siddiqah (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Laela Soroti Lunturnya Kontrol Sosial dan Budaya Malu di Kasus Kehamilan Anak

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Ketua Lembaga Insan Cita Kota Bontang, Laela Siddiqah (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)
Ketua Lembaga Insan Cita Kota Bontang, Laela Siddiqah (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Laela Soroti Lunturnya Kontrol Sosial dan Budaya Malu di Kasus Kehamilan Anak

Ketua Lembaga Insan Cita Kota Bontang, Laela Siddiqah (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Reporter : Lutfi Aziz | Editor : Buniyamin

BONTANG – Meningkatnya kasus kehamilan anak di bawah umur di Kota Bontang tidak hanya menjadi persoalan keluarga, tetapi juga menunjukkan lemahnya kontrol sosial di tengah masyarakat. 

Hal itu disampaikan Ketua Lembaga Insan Cita Kota Bontang, Laela Siddiqah menanggapi sejumlah kasus yang belakangan terungkap.
Laela menilai masyarakat saat ini cenderung lebih permisif terhadap berbagai perubahan perilaku sosial.

Kondisi tersebut membuat nilai-nilai yang sebelumnya menjadi pengingat dan pengawas dalam kehidupan bermasyarakat perlahan memudar.

“Nilai sosial yang seharusnya menjadi kontrol terhadap perilaku anak semakin melemah. Budaya malu yang sehat juga mulai menghilang,” katanya.

Menurutnya, lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak. Ketika masyarakat tidak lagi aktif memberikan perhatian dan kepedulian terhadap kondisi sosial di sekitarnya, berbagai persoalan yang melibatkan anak berpotensi semakin sulit dicegah.

Untuk itu, Laela mendorong adanya gerakan edukasi yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Edukasi tersebut tidak hanya ditujukan kepada anak dan orang tua, tetapi juga kepada komunitas, tokoh masyarakat, serta lingkungan sekitar.

Ia menegaskan bahwa menciptakan lingkungan yang aman dan beretika bukan hanya tanggung jawab keluarga maupun pemerintah, melainkan tugas bersama seluruh elemen masyarakat.

“Setiap orang memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang nyaman, aman, dan beradab bagi anak-anak,” ujarnya.

Laela berharap meningkatnya perhatian terhadap persoalan ini dapat mendorong lahirnya kesadaran kolektif untuk memperkuat perlindungan anak dan mencegah terulangnya kasus serupa di masa mendatang.