Reporter: Lutfi Aziz | Editor: Bambang Irawan
BONTANG – Memudarnya budaya malu di kalangan pelajar dinilai menjadi salah satu faktor yang mendorong meningkatnya berbagai persoalan sosial di Kota Bontang, mulai dari kehamilan anak di bawah umur hingga risiko lahirnya generasi stunting.
Pandangan tersebut disampaikan aktivis muda Kota Bontang, Zalwa Tulmukmainna. Ia menilai fenomena pergaulan bebas yang semakin terbuka di ruang publik menjadi sinyal melemahnya kontrol sosial terhadap remaja.
Menurutnya, saat ini masyarakat kerap menjumpai pelajar yang tidak lagi canggung menunjukkan kemesraan di tempat umum, seperti kafe maupun ruang publik lainnya. Kondisi tersebut, kata dia, tidak boleh dianggap sebagai hal biasa.
"Ketika budaya malu mulai hilang, batas-batas norma juga ikut memudar. Ini yang perlu menjadi perhatian bersama," ujarnya, Kamis (25/6/2026).
Zalwa, yang aktif mengedukasi pelajar mengenai public speaking, menilai perilaku yang kerap dianggap sepele, seperti berpelukan atau bermesraan di ruang publik, dapat menjadi indikator awal perubahan pola pergaulan di kalangan remaja.
Jika tidak mendapat perhatian dari keluarga, sekolah maupun lingkungan sekitar, kondisi itu berpotensi berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.
Ia menilai meningkatnya kasus kehamilan anak yang belakangan terungkap di Kota Bontang harus menjadi alarm bagi seluruh pihak untuk memperkuat pengawasan dan pendidikan karakter bagi generasi muda.
Menurutnya, dampak kehamilan usia anak tidak hanya mengancam keberlanjutan pendidikan remaja, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan bagi ibu dan anak yang dilahirkan.
"Persoalan ini tidak berhenti pada kehamilan saja. Ada risiko lain yang harus dipikirkan, termasuk kualitas tumbuh kembang anak dan potensi stunting," katanya.
Zalwa menegaskan bahwa penanganan stunting tidak cukup hanya dilakukan melalui intervensi kesehatan. Upaya pencegahan harus dimulai dari akar persoalan, termasuk membangun kesadaran moral, etika pergaulan, serta menghidupkan kembali budaya malu di kalangan pelajar.
Ia juga mendorong adanya kolaborasi antara orang tua, sekolah, pemerintah, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang lebih peduli terhadap perkembangan remaja.
"Jangan sampai kita hanya fokus menangani dampaknya. Yang lebih penting adalah mencegah penyebabnya sejak awal melalui penguatan karakter dan kontrol sosial," pungkasnya.


