Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan
SAMARINDA – Wacana menjadikan Samarinda sebagai kota bebas tambang pada 2026 dinilai bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan.
Namun, langkah tersebut harus diiringi dengan pengembangan sektor ekonomi alternatif, termasuk penciptaan lapangan kerja hijau atau green jobs yang dinilai memiliki potensi besar di masa depan.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Hijau, Dicky Edwin Hindarto, mengatakan sejumlah daerah di Indonesia telah membuktikan bahwa wilayah dengan potensi Sumber Daya Alam (SDA) besar tetap bisa berkembang tanpa bergantung pada aktivitas pertambangan.
Menurutnya, salah satu contoh yang paling dekat adalah Kota Balikpapan yang sejak awal menetapkan kebijakan tidak membuka ruang bagi pertambangan batu bara di wilayahnya.
“Kalau ada komitmen dari pemerintah dan masyarakat, tentu sangat mungkin. Ada juga Prabumulih di Sumatera Selatan yang memilih tidak menjadikan wilayahnya sebagai daerah tambang meskipun memiliki potensi batu bara,” kata Dicky.
Ia menilai kota-kota dengan kepadatan penduduk tinggi semestinya lebih diarahkan menjadi pusat jasa, pendidikan, industri kreatif, maupun pariwisata dibandingkan sektor ekstraktif. Sebab, jika sebuah kota terus berhimpitan dengan aktivitas tambang akan berakibat buruk pada penduduk dan kualitas lingkungannya.
Untuk meminimalisasi dampak dari penghentian aktivitas tambang, salah satu peluang yang dapat dikembangkan adalah green jobs atau pekerjaan yang berwawasan lingkungan.
Konsep tersebut tidak selalu identik dengan pekerjaan di sektor lingkungan hidup, tetapi juga bisa diterapkan pada usaha kecil, industri kreatif hingga produk budaya.
Menurut Dicky, banyak usaha yang sebenarnya sudah mengarah pada konsep ramah lingkungan namun belum dipasarkan sebagai produk hijau.
“Sarung Samarinda misalnya. Kalau proses produksinya bisa ditelusuri dan menggunakan bahan yang ramah lingkungan, itu bisa menjadi nilai tambah. Tinggal bagaimana dipasarkan,” ujarnya.
Selain sektor kerajinan, peluang green jobs juga terbuka pada industri makanan, fesyen, hingga pengolahan limbah. Ia mencontohkan penggunaan kemasan berbahan bambu atau daun sebagai pengganti plastik sekali pakai yang kini semakin diminati masyarakat.
Menurutnya, pasar untuk produk-produk berkelanjutan terus berkembang dan dapat menjadi peluang baru bagi pelaku usaha lokal.
Ia mencontohkan pengembangan kopi Liberika di lahan bekas tambang di Muara Enim, Sumatera Selatan yang kini mampu memiliki nilai jual tinggi karena dipadukan dengan konsep keberlanjutan dan pengelolaan limbah yang baik.
Karena itu, menurut Dicky, pembahasan mengenai Samarinda bebas tambang seharusnya tidak hanya berhenti pada penghentian aktivitas tambang semata, tetapi juga dibarengi dengan strategi menciptakan sumber ekonomi baru yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan bagi masyarakat.
“Ke depan produk yang ramah lingkungan akan semakin dicari. Ini peluang ekonomi yang sangat besar jika mulai dipersiapkan dari sekarang,” pungkasnya.


