Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin
TANJUNG REDEB – Riuh suara adat, deretan stan UMKM yang dipadati pengunjung hingga berbagai ritual turun-temurun menjadi bukti bahwa budaya masih memiliki tempat istimewa di tengah arus modernisasi.
Itulah yang terlihat dalam Festival Adat Bakudung Batiung dan peringatan Hari Jadi Kampung Tumbit Dayak ke-263 pada 2026 ini.
Kegiatan yang telah masuk dalam kalender event wisata Kabupaten Berau ini kembali menjadi panggung bagi masyarakat untuk menunjukkan kekayaan budaya yang diwariskan leluhur sekaligus menggerakkan roda perekonomian kampung.
Wakil Bupati Berau, Gamalis menilai Bakudung Batiung bukan hanya seremoni tahunan, melainkan upaya nyata menjaga identitas daerah agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Festival ini menjadi sarana mempertahankan tradisi adat budaya asli Berau agar terus lestari dan bermanfaat bagi generasi mendatang. Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya saat membuka festival tersebut.
Menurutnya, keberadaan UMKM yang ikut meramaikan kegiatan menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Setiap pelaksanaan Bakudung Batiung, UMKM selalu ramai dikunjungi. Ini menunjukkan budaya tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi kreatif masyarakat,” katanya.
Festival Bakudung Batiung sendiri menampilkan berbagai rangkaian tradisi khas masyarakat Dayak di Tumbit Dayak. Mulai dari prosesi Jak Gai, Batiung, Bejiak, hingga kunjungan ke Rumah Kepala Tua.
Salah satu yang paling menarik perhatian adalah tradisi Panjat Piruaj, yakni proses pengambilan madu dari pohon tinggi yang menggambarkan kedekatan masyarakat dengan alam sebagai sumber kehidupan.
Gamalis berharap tradisi tersebut terus diperkenalkan kepada generasi muda agar tidak tergerus perkembangan teknologi dan budaya luar.
“Di era digital saat ini, anak-anak muda harus tetap mengenal akar budayanya. Tradisi seperti Bakudung Batiung menjadi identitas yang membedakan Berau dengan daerah lain,” tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa Tumbit Dayak yang kini telah berstatus Kampung Mandiri memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai destinasi wisata budaya unggulan.
Selama ini, kata Gamalis, Berau lebih dikenal dengan wisata bahari dan keindahan bawah lautnya. Namun, potensi wisata budaya dinilai tak kalah menarik untuk dikembangkan.
“Ke depan kita ingin wisata Berau tidak hanya dikenal karena alamnya, tetapi juga karena kekayaan budaya yang masih dijaga dan diwariskan secara turun-temurun,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gamalis turut mengucapkan selamat ulang tahun ke-263 kepada Kampung Tumbit Dayak. Ia berharap usia yang semakin matang menjadi momentum untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat serta mengoptimalkan potensi kampung, baik di sektor pariwisata maupun sumber daya alam.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Nia Daniati, mengungkapkan keberhasilan penyelenggaraan festival tahun ini tidak lepas dari semangat gotong royong masyarakat serta dukungan berbagai pihak.
Tercatat, dukungan dana dari perusahaan, sponsor, donatur, lembaga kampung, hingga masyarakat mencapai lebih dari Rp426 juta. Dana tersebut digunakan untuk mendukung seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari konsumsi, perlengkapan, dokumentasi, tenda UMKM, hingga hadiah lomba.
“Dukungan ini menjadi bukti kuatnya semangat kebersamaan masyarakat dalam menjaga adat budaya sekaligus membangun Kampung Tumbit Dayak,” ungkapnya.
Melalui festival yang telah berlangsung secara turun-temurun ini, Tumbit Dayak kembali menegaskan dirinya bukan hanya sebagai kampung adat, tetapi juga sebagai salah satu wajah budaya Berau yang terus hidup, berkembang, dan memberi manfaat bagi masyarakatnya.


