Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan
TANJUNG REDEB – Festival Adat Bekudung Betiung kembali membuktikan bahwa budaya dapat menjadi daya tarik wisata yang menjanjikan.
Melalui berbagai perlombaan tradisional dan atraksi budaya khas Dayak Ga’ai, Kampung Tumbit Dayak berhasil menarik perhatian pengunjung sekaligus menggerakkan ekonomi warga.
Pemandangan itu menjadi bukti bahwa Festival Adat Bekudung Betiung bukan lagi sekadar perayaan budaya tahunan. Event yang digelar bersamaan dengan Hari Jadi ke-263 Kampung Tumbit Dayak ini telah berkembang menjadi magnet yang menggerakkan aktivitas wisata dan ekonomi masyarakat setempat.
Beragam perlombaan tradisional yang menjadi ciri khas masyarakat Dayak Ga’ai sengaja dihadirkan untuk menghidupkan kembali permainan dan keterampilan leluhur yang mulai jarang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari lomba tombak, sumpit, perahu dayung, pulas kayu hingga engrang, seluruhnya menjadi tontonan yang menarik perhatian pengunjung.
Kepala Kampung Tumbit Dayak, Ahmad Jamlan, mengatakan festival tersebut menjadi cara masyarakat mempertahankan warisan budaya tanpa harus terjebak pada pola pelestarian yang monoton.
Menurutnya, budaya harus dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan dikemas menjadi pengalaman yang menarik agar tetap diminati generasi muda.
“Melalui festival ini, kami ingin budaya Dayak Ga’ai tidak hanya dikenang, tetapi juga dipraktikkan dan diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas,” ujarnya.
Lebih dari itu, ramainya pengunjung selama festival turut membawa dampak ekonomi bagi warga. Pelaku usaha kecil, pedagang kuliner, hingga masyarakat yang menyediakan berbagai kebutuhan pengunjung ikut merasakan peningkatan aktivitas usaha.
Festival yang telah masuk dalam kalender pariwisata Kabupaten Berau tersebut juga menjadi panggung untuk memperkenalkan Tumbit Dayak sebagai kampung yang kaya akan tradisi dan potensi wisata budaya.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan modernisasi, masyarakat Tumbit Dayak justru menunjukkan bahwa budaya tidak harus ditinggalkan.
Sebaliknya, tradisi dapat dikemas lebih menarik melalui kolaborasi dengan konsep festival yang lebih modern tanpa menghilangkan nilai adat yang terkandung di dalamnya.
Karena itulah, Bekudung Betiung kini tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara tradisi, pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Bagi Tumbit Dayak, menjaga budaya bukan sekadar mempertahankan masa lalu. Lebih dari itu, budaya telah menjadi modal penting untuk membangun masa depan kampung yang lebih dikenal, lebih maju, dan lebih sejahtera. (Adv)



