Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan
SAMARINDA - Festival Budaya Pampang 2026 bisa menjadi pilihan menarik untuk menghabiskan waktu bersama keluarga sekaligus mengenal lebih dekat kekayaan budaya Dayak Kenyah yang tetap lestari di tengah derasnya modernisasi.
Selama empat hari, mulai 25 hingga 28 Juni 2026, kawasan Kelurahan Budaya Pampang akan dipenuhi berbagai atraksi budaya, ritual adat, hingga olahraga tradisional yang jarang ditemui di kehidupan sehari-hari.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, mengatakan festival ini merupakan agenda tahunan yang tidak hanya menjadi perayaan ulang tahun ke-53 Kelurahan Budaya Pampang, tetapi juga dirangkaikan dengan pesta panen masyarakat Dayak Kenyah.
"Festival ini tidak sekadar seremonial. Ada banyak nilai yang bisa dipelajari dan diwariskan kepada generasi muda," kata Andi Harun usai pembukaan.
Rangkaian kegiatan dimulai pada Kamis (25/6/2026) dengan ritual adat Dayak Kenyah yang berlangsung sejak pagi hingga siang hari. Setelah itu, pengunjung akan disuguhkan berbagai tarian tradisional yang menjadi pembuka kemeriahan festival.
Bagi yang ingin merasakan pengalaman berbeda, Jumat (26/6/2026) menjadi waktu yang tepat untuk datang. Sebab, masyarakat dan wisatawan dapat menyaksikan bahkan mencoba olahraga tradisional menyumpit yang diperlombakan sejak pukul 09.00 hingga 17.00 WITA.
Pada Sabtu (27/6)2026), pengunjung kembali diajak menyelami budaya Dayak Kenyah melalui prosesi adat Alaq Leto. Malam hari suasana festival akan semakin semarak dengan penampilan seni budaya Jawa melalui pertunjukan kuda lumping.
Sementara itu, hari terakhir pada Minggu (28/6/2026), panggung festival akan dipenuhi berbagai pertunjukan kesenian tradisional Dayak yang menjadi penutup rangkaian acara.
Menurut Andi Harun, keberadaan Festival Budaya Pampang menjadi pengingat bahwa Samarinda tumbuh dari keberagaman suku dan budaya yang hidup berdampingan selama puluhan tahun.
"Dari sini kita belajar bahwa Samarinda dibangun atas gotong royong, kekerabatan, dan persatuan yang lahir dari perbedaan," tuturnya.
Tak hanya menyajikan hiburan, festival ini juga menurutnya menjadi ruang belajar tentang hubungan manusia dengan alam. Nilai-nilai yang selama ini dijaga masyarakat adat Dayak dinilai relevan dengan tantangan lingkungan yang dihadapi kota-kota modern saat ini.
Di tengah maraknya pusat perbelanjaan dan hiburan modern, Festival Budaya Pampang menawarkan pengalaman yang berbeda. Bukan sekadar menonton pertunjukan, tetapi juga memahami sejarah, tradisi, dan filosofi hidup masyarakat adat yang telah menjadi bagian penting dari identitas Samarinda.
Jadi, jika akhir pekan ini ingin mencari suasana baru tanpa harus keluar kota, Kelurahan Budaya Pampang bisa menjadi destinasi yang layak masuk daftar kunjungan.
Selain menikmati pertunjukan budaya, pengunjung juga dapat berburu kuliner khas dan berinteraksi langsung dengan masyarakat yang tetap menjaga warisan leluhur mereka hingga hari ini.


