Reporter: Siswandi | Editor: Bambang Irawan
SANGATTA – Rencana masuknya investasi baru di Kecamatan Muara Wahau Kutai Timur (Kutim) kembali memunculkan tuntutan agar manfaat ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat setempat.
Pemerintah kecamatan mengingatkan perusahaan yang akan beroperasi tidak hanya berorientasi pada investasi, tetapi juga wajib memprioritaskan penyerapan tenaga kerja lokal, menghormati adat istiadat, serta berkontribusi terhadap pembangunan sosial di wilayah operasionalnya.
Itu disampaikan Camat Muara Wahau, Marlianto usai menghadiri sosialisasi hasil pemetaan sosial dan konsultasi publik Rancangan Induk Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (RIPPM) PT Ithaca Resources di Kantor Bupati Kutim.
Menurut Marlianto, salah satu persoalan yang kerap menjadi perhatian masyarakat adalah minimnya kesempatan kerja bagi warga sekitar ketika perusahaan mulai beroperasi.
Karena itu, ia menegaskan investasi harus memberikan manfaat langsung melalui pembukaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal.
"Kalau perusahaan buka lalu tenaga kerjanya orang luar semua, ya kami kurang setuju. Karena masyarakat kami juga masih banyak yang membutuhkan pekerjaan," katanya.
Ia mengatakan Pemerintah Kecamatan Muara Wahau mendukung investasi selama mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Penyerapan tenaga kerja lokal, baik untuk pekerjaan umum maupun tenaga yang memiliki kompetensi tertentu, harus menjadi perhatian perusahaan.
"Kita optimistis harus ada tenaga kerja lokal yang diterima. Baik tenaga kerja umum maupun yang memiliki keahlian tertentu. Harapannya tentu sesuai dengan ketentuan yang berlaku," ujarnya.
Marlianto menyebut pemerintah daerah telah memiliki ketentuan mengenai komposisi tenaga kerja, yakni 80 persen berasal dari tenaga kerja lokal dan 20 persen dari luar daerah.
Menurutnya, ketentuan tersebut perlu menjadi acuan dalam proses rekrutmen.
Selain aspek ketenagakerjaan, ia meminta perusahaan turut berperan dalam mendukung kegiatan sosial dan pelestarian budaya masyarakat Muara Wahau.
Ia menilai kegiatan adat yang rutin dilaksanakan masyarakat membutuhkan dukungan dari dunia usaha.
"Di Wahau banyak kegiatan adat dan budaya yang memerlukan biaya cukup besar. Kami berharap perusahaan juga bisa ikut berkontribusi membantu kegiatan masyarakat seperti itu," katanya.
Marlianto juga mengingatkan perusahaan agar menghormati adat istiadat yang berlaku di wilayah Muara Wahau.
Ia menegaskan setiap aktivitas perusahaan perlu melibatkan pemerintah desa dan tokoh adat agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.
"Orang luar yang datang harus mengikuti adat istiadat yang berlaku di daerah kami. Jangan mereka yang mengatur kami, tetapi mereka harus menyesuaikan diri dengan aturan dan budaya yang sudah ada," tegasnya.
Menurutnya, komunikasi yang baik antara perusahaan, pemerintah desa, tokoh adat, dan pemerintah kecamatan menjadi faktor penting agar investasi dapat diterima masyarakat sekaligus memberikan manfaat bagi pembangunan desa.
"Nanti harus banyak komunikasi dengan desa, tokoh adat, dan kecamatan. Dengan koordinasi yang baik, keberadaan perusahaan bisa diterima dan manfaatnya dirasakan masyarakat," pungkasnya.


