Banner ADV

Dispusip Berau Ingin Perpustakaan Jadi Rumah Belajar Modern Berbasis Digital

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Sekretaris Dispusip Berau, Sunarto, memberikan arahan kepada peserta. (Foto: Dispusip Berau)
Sekretaris Dispusip Berau, Sunarto, memberikan arahan kepada peserta. (Foto: Dispusip Berau)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Dispusip Berau Ingin Perpustakaan Jadi Rumah Belajar Modern Berbasis Digital

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Sekretaris Dispusip Berau, Sunarto, memberikan arahan kepada peserta. (Foto: Dispusip Berau)
Sekretaris Dispusip Berau, Sunarto, memberikan arahan kepada peserta. (Foto: Dispusip Berau)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Dispusip Berau Ingin Perpustakaan Jadi Rumah Belajar Modern Berbasis Digital

Sekretaris Dispusip Berau, Sunarto, memberikan arahan kepada peserta. (Foto: Dispusip Berau)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin

TANJUNG REDEB – Digitalisasi perpustakaan di Kabupaten Berau terus dipercepat. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Berau meminta seluruh pengelola perpustakaan sekolah maupun perpustakaan kampung segera meninggalkan sistem administrasi manual dan mulai menerapkan layanan berbasis digital.

Komitmen tersebut ditegaskan Sekretaris Dispusip Berau, Sunarto, saat menutup Pelatihan Aplikasi Inlislite Versi 3.2 bagi pengelola perpustakaan sekolah dan perpustakaan kampung yang berlangsung selama lima hari, 22–26 Juni 2026.

Menurut Sunarto, digitalisasi bukan lagi sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan menjadi kebutuhan untuk meningkatkan kualitas pelayanan perpustakaan kepada masyarakat.

“Melalui Inlislite, seluruh proses administrasi perpustakaan bisa dilakukan lebih cepat dan tertata, mulai dari pendataan anggota, katalog buku, pelayanan peminjaman hingga penyusunan laporan. Ini menjadi langkah penting agar perpustakaan kita semakin modern dan mudah diakses,” ujarnya.

Ia menilai pelatihan tersebut menjadi awal perubahan bagi pengelola perpustakaan di Berau. Selama lima hari pelaksanaan, peserta yang sebelumnya belum mengenal sistem digital kini telah mampu mengoperasikan berbagai fitur dasar Inlislite, mulai dari katalogisasi hingga pencetakan barcode koleksi.

Namun, Sunarto mengingatkan bahwa keberhasilan pelatihan tidak diukur dari sertifikat yang diterima peserta, melainkan dari sejauh mana ilmu tersebut diterapkan di perpustakaan masing-masing.

“tantangan sekarang bukan lagi bisa atau tidak menggunakan aplikasi ini, tetapi apakah kita konsisten menjalankannya,” katanya.
Ia juga meminta seluruh pengelola menjaga kualitas data perpustakaan agar selalu diperbarui.

Menurutnya, data yang akurat akan berpengaruh langsung terhadap kualitas pelayanan kepada masyarakat sekaligus memudahkan pemerintah dalam menyusun kebijakan pengembangan literasi.

Selain itu, Sunarto mendorong para pengelola untuk terus membangun komunikasi melalui komunitas maupun grup diskusi yang telah dibentuk selama pelatihan.

“Kalau ada kendala, silakan berdiskusi atau menghubungi tim Dispusip. Kami akan terus memberikan pendampingan agar digitalisasi perpustakaan di Berau benar-benar berjalan,” tegasnya.

Ia berharap seluruh peserta menjadi motor penggerak perubahan di wilayah masing-masing. Dengan pengelolaan yang semakin modern, perpustakaan tidak hanya menjadi tempat menyimpan buku, tetapi juga berkembang sebagai pusat belajar, ruang literasi dan rumah kedua bagi anak-anak maupun masyarakat.

“Harapan kami, transformasi digital ini mampu meningkatkan minat baca masyarakat sekaligus memperkuat budaya literasi di Kabupaten Berau,” pungkasnya. (Adv)