Banner ADV

Air Panas Pemapak Diusulkan Jadi Ikon Geowisata Berau, Disbudpar Siap Perkuat Promosi

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Wisata Air Panas Asin Pemapak, Kampung Biatan Bapinang, Kecamatan Biatan, Kabupaten Berau. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Wisata Air Panas Asin Pemapak, Kampung Biatan Bapinang, Kecamatan Biatan, Kabupaten Berau. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Air Panas Pemapak Diusulkan Jadi Ikon Geowisata Berau, Disbudpar Siap Perkuat Promosi

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Wisata Air Panas Asin Pemapak, Kampung Biatan Bapinang, Kecamatan Biatan, Kabupaten Berau. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Wisata Air Panas Asin Pemapak, Kampung Biatan Bapinang, Kecamatan Biatan, Kabupaten Berau. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Air Panas Pemapak Diusulkan Jadi Ikon Geowisata Berau, Disbudpar Siap Perkuat Promosi

Wisata Air Panas Asin Pemapak, Kampung Biatan Bapinang, Kecamatan Biatan, Kabupaten Berau. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin

TANJUNG REDEB – Keberadaan Air Panas Pemapak di Kampung Biatan Bapinang, Kecamatan Biatan, Kabupaten Berau tidak hanya menawarkan pesona wisata alam, tetapi juga menyimpan jejak sejarah bumi yang diperkirakan telah berlangsung selama jutaan tahun. 

Keunikan tersebut membuat kawasan ini ditetapkan sebagai warisan geologi dan menjadi bagian dari usulan Geopark Nasional Sangkulirang-Mangkalihat.

Potensi itu pun mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa menilai Air Panas Pemapak merupakan aset geowisata yang memiliki nilai ilmiah, sekaligus ekonomi sehingga perlu terus dijaga dan dipromosikan.

Menurutnya, tidak banyak daerah yang memiliki objek wisata dengan kekayaan geologi seperti Air Panas Pemapak.

Fenomena munculnya air panas dari lapisan bawah bumi yang telah berlangsung dalam waktu sangat panjang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan maupun peneliti.

“Air Panas Pemapak bukan sekadar tempat rekreasi, tetapi juga memiliki nilai edukasi yang sangat tinggi. Ini menjadi bukti perjalanan panjang sejarah bumi yang masih bisa kita saksikan hingga hari ini,” ujarnya.

Yudha mengatakan status kawasan tersebut sebagai bagian dari pengusulan Geopark Nasional Sangkulirang-Mangkalihat menjadi peluang besar bagi Berau untuk memperkuat sektor pariwisata berbasis konservasi.

Ia menegaskan, pengembangan destinasi geowisata harus berjalan beriringan dengan upaya pelestarian lingkungan.

Keaslian kawasan menjadi faktor utama agar nilai geologi yang dimiliki tetap terjaga untuk generasi mendatang.

“Kalau kawasan ini dirawat dengan baik, manfaatnya bukan hanya dirasakan masyarakat sekarang, tetapi juga menjadi warisan bagi anak cucu kita,” katanya.

Disbudpar, lanjut Yudha, akan terus bersinergi dengan berbagai pihak untuk memperkuat promosi destinasi tersebut melalui berbagai kegiatan, termasuk edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kawasan warisan geologi.

Sementara Policy and External Affairs Senior Specialist YKAN, Gunawan Wibisono menjelaskan, Air Panas Pemapak merupakan salah satu situs geologi yang memiliki cerita pembentukan bumi sangat panjang.

Ia menerangkan, jutaan tahun lalu air terperangkap di lapisan batuan bawah permukaan layaknya berada di dalam “kuali raksasa”.
Selama berada di bawah tekanan dan suhu tinggi dalam waktu yang sangat lama, karakter fisik maupun kimia air mengalami perubahan sebelum akhirnya menemukan rekahan batuan untuk keluar ke permukaan.

“Proses ini berlangsung secara alami selama jutaan tahun. Air yang keluar hari ini merupakan bagian dari sistem bawah permukaan yang sangat besar sehingga fenomenanya diperkirakan masih akan terus berlangsung dalam waktu yang sangat lama,” jelasnya.

Menurut Gunawan, keunikan tersebut menjadi salah satu alasan Air Panas Pemapak ditetapkan sebagai warisan geologi sekaligus masuk dalam rangkaian geosite yang mendukung pengusulan Geopark Nasional Sangkulirang-Mangkalihat.

“Warisan geologi seperti ini tidak bisa diperbaharui apabila rusak. Untuk itu, pelestarian kawasan harus menjadi tanggung jawab bersama agar nilai ilmiah, pendidikan, dan pariwisatanya tetap terjaga,” pungkasnya. (Adv)