Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin
TANJUNG REDEB – Kejernihan air Danau Labuan Cermin yang mampu memantulkan pepohonan bak cermin selama ini menjadi daya tarik utama wisatawan.
Namun di balik pesona alamnya, destinasi unggulan di Kecamatan Biduk-biduk itu menyimpan kisah panjang tentang pelestarian lingkungan yang kini menjadi penopang ekonomi masyarakat.
Policy and External Affairs Senior Specialist YKAN, Gunawan Wibisono menjelaskan, nama Labuan Cermin memiliki sejarah yang erat dengan kehidupan masyarakat pesisir.
Dahulu kawasan tersebut dikenal sebagai tempat berlabuh perahu sekaligus lokasi bongkar muat hasil hutan, seperti kayu dan rotan, yang dibawa dari kawasan pedalaman.
“Nama Labuan berasal dari fungsi kawasan ini sebagai tempat berlabuh, sedangkan kata Cermin muncul karena kejernihan airnya yang mampu memantulkan pepohonan di sekitarnya layaknya cermin alami,” ujarnya.
Keistimewaan danau ini, lanjut Gunawan, tidak hanya terletak pada kejernihan airnya.
Labuan Cermin merupakan salah satu danau langka yang memiliki dua lapisan air, yakni air tawar di bagian permukaan dan air asin di dasar danau yang tidak bercampur.
Fenomena tersebut terjadi karena danau masih terhubung dengan laut melalui muara kecil, sementara air tawarnya berasal dari mata air alami yang muncul dari celah-celah batu di kaki bukit.
Kondisi inilah yang menjadikan Labuan Cermin memiliki ekosistem unik sekaligus menjadi laboratorium alam yang bernilai tinggi.
Kesadaran masyarakat untuk menjaga kawasan itu telah tumbuh sejak lama. Pada 2012 hingga 2013, masyarakat bersama kelompok pengelola, pemerintah kampung, lembaga swadaya masyarakat, serta Dinas Kehutanan Kabupaten Berau melakukan kajian menyeluruh terhadap kondisi hutan dan ekosistem perairan Labuan Cermin.
Hasil kajian tersebut kemudian menjadi dasar Pemerintah Kabupaten Berau menetapkan kawasan di sekitar danau sebagai kawasan hutan lindung pada masa kepemimpinan Bupati Makmur HAPK.
Kebijakan itu dilakukan untuk menjaga keberlanjutan mata air, kualitas air, serta keanekaragaman hayati yang menjadi kekuatan utama destinasi tersebut.
Menurut Gunawan, keberhasilan menjaga kelestarian alam juga berdampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.
“Kehadiran wisatawan membuat roda ekonomi di Biduk-Biduk terus bergerak. Mulai dari jasa transportasi, penginapan, rumah makan, penyewaan perahu, hingga pelaku UMKM semuanya merasakan manfaat dari berkembangnya sektor pariwisata di Labuan Cermin,” jelasnya.
Ia berharap pengelolaan destinasi tersebut ke depan semakin mengedepankan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah dan berbagai pihak agar keseimbangan antarkonservasi dan pemanfaatan ekonomi tetap terjaga.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau, Yudha Budisantosa menegaskan, Labuan Cermin merupakan ikon pariwisata Berau yang harus dijaga keberlanjutannya.
Menurutnya, arah pengembangan pariwisata Berau saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga memastikan kelestarian lingkungan tetap menjadi prioritas utama.
“Labuan Cermin adalah aset luar biasa yang dimiliki Berau. Keindahannya menjadi daya tarik wisata, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kawasan ini tetap lestari sehingga manfaatnya bisa dirasakan masyarakat dalam jangka panjang,” kata Yudha.
Ia mengatakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau terus mendorong pengelolaan destinasi wisata berbasis masyarakat melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan kelembagaan pengelola hingga promosi yang tetap mengedepankan prinsip konservasi.
“Kalau alamnya terjaga, wisatawan akan terus datang. Ketika wisatawan terus berdatangan, ekonomi masyarakat ikut tumbuh. Itulah konsep pariwisata berkelanjutan yang ingin terus kita bangun di Berau,” pungkasnya. (Adv)



