DPRD Balikpapan Ingatkan Dinkes tak Terburu-buru Nyatakan Hujan Debu Aman bagi Kesehatan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Anggota Komisi IV DPRD Balikpapan, Sofyan Jufri. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Anggota Komisi IV DPRD Balikpapan, Sofyan Jufri. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

DPRD Balikpapan Ingatkan Dinkes tak Terburu-buru Nyatakan Hujan Debu Aman bagi Kesehatan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Anggota Komisi IV DPRD Balikpapan, Sofyan Jufri. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Anggota Komisi IV DPRD Balikpapan, Sofyan Jufri. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

DPRD Balikpapan Ingatkan Dinkes tak Terburu-buru Nyatakan Hujan Debu Aman bagi Kesehatan 

Anggota Komisi IV DPRD Balikpapan, Sofyan Jufri. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan

BALIKPAPAN - Anggota Komisi IV DPRD Balikpapan, Sofyan Jufri meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) tidak terburu-buru menyimpulkan tidak adanya dampak kesehatan akibat sebaran debu yang terjadi di sejumlah wilayah Kota Balikpapan beberapa waktu lalu.

Menurut Sofyan, pernyataan bahwa tidak ada korban atau gangguan kesehatan akibat paparan debu harus didasarkan pada hasil pemeriksaan langsung terhadap masyarakat yang terdampak. 

Karena itu, Dinkes diminta turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan dan kajian kesehatan secara menyeluruh.

"Dinas Kesehatan bersama timnya harus turun ke lapangan, mengecek warga, kemudian mengkaji apakah ada dampak kesehatan yang ditimbulkan," ucap Sofyan, Senin (29/6/2026).

Ia menilai belum bisa dipastikan tidak adanya korban apabila pemeriksaan terhadap warga belum dilakukan secara menyeluruh, terutama masyarakat yang rumahnya terdampak langsung oleh sebaran partikel debu tersebut.

"Bagaimana bisa menyatakan tidak ada korban kalau belum benar-benar dicek? Kan harus dipastikan kondisi masyarakat yang rumahnya terdampak debu," katanya.

Pernyataan itu disampaikan menyusul polemik sebaran debu berwarna kecoklatan yang muncul bersamaan dengan hujan pada Selasa (23/6/2026). 

Saat itu, sejumlah warga mengeluhkan halaman rumah, kendaraan, hingga lingkungan permukiman yang dipenuhi partikel debu halus.

Keluhan warga kemudian ramai dibagikan melalui media sosial. Beberapa pengendara juga mengaku partikel debu yang terbawa hujan sempat mengenai mata saat berkendara.

Peristiwa tersebut lantas memunculkan berbagai spekulasi mengenai sumber debu. Dugaan sementara mengarah ke aktivitas di kawasan kilang.

Menanggapi laporan masyarakat, VP Legal and Relation PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB), Asep Sulaeman membuat pernyataan resminya.

Ia menyatakan, pihak perusahaan telah menerima laporan tersebut dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Menurut Asep, saat ini perusahaan tengah menjalani tahapan pengoperasian awal proses pengaliran bahan baku pada unit kilang baru. 

Berdasarkan identifikasi awal, material yang dilaporkan warga disebut masih berada dalam kategori aman dan tidak menunjukkan tingkat risiko kesehatan yang signifikan.

Meski demikian, KPB tetap melakukan pemantauan dan evaluasi lebih lanjut bersama instansi terkait untuk memastikan kondisi di lapangan.

Di sisi lain, Dinkes Balikpapan sempat menjadi sorotan setelah mengunggah poster peringatan kesehatan melalui akun media sosial resminya. 

Dalam unggahan tersebut masyarakat diingatkan mengenai bahaya partikel PM 2.5 yang dapat berdampak pada kesehatan pernapasan.

Namun tidak lama kemudian unggahan itu dihapus. Kepala Dinkes Balikpapan, Alwiati, menjelaskan penghapusan dilakukan karena konten tersebut dipublikasikan tanpa melalui prosedur rilis resmi.

Ia juga menegaskan tidak ada intervensi dari pihak mana pun terkait penghapusan postingan tersebut.

Pada Kamis (25/6/2026), Dinkes bersama sejumlah instansi terkait melakukan investigasi di Kantor KPB. Dalam pertemuan itu disepakati sampel debu dibawa ke Laboratorium Sucofindo Jakarta untuk diuji guna mengetahui kandungan material serta potensi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

Hasil investigasi awal mengungkap kemunculan debu diduga berasal dari proses uji coba peralatan di area kilang. 

Saat pelaksanaan pengujian terjadi gangguan teknis atau miscommissioning pada salah satu alat yang menyebabkan partikel debu keluar ke lingkungan sekitar.

Sementara itu, Sofyan menegaskan DPRD Balikpapan akan terus mengawal penanganan kasus tersebut, termasuk meminta kejelasan hasil uji laboratorium dan evaluasi terhadap penyebab kejadian.

Menurutnya, yang terpenting bukan hanya mengetahui jenis debu yang ditemukan, tetapi memastikan penyebab utama insiden dapat diidentifikasi agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

"Yang terpenting bukan hanya mengetahui debunya apa, tetapi mengevaluasi kenapa kejadian itu bisa terjadi. Itu yang harus menjadi perhatian bersama," pungkasnya.