Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin
SAMARINDA – Terowongan Samarinda memasuki fase pengujian teknis sebagai bagian dari proses penerbitan Sertifikat Laik Fungsi (SLF).
Pengujian tersebut akan dilakukan oleh tim independen dari Universitas Gadjah Mada (UGM) setelah seluruh dokumen teknis dan persyaratan dari Balai Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (BKJTK) Kementerian PUPR dinyatakan lengkap.
Tim penguji yang akan terlibat terdiri atas sejumlah profesor yang memiliki kompetensi di bidang rekayasa struktur dan infrastruktur transportasi.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Terowongan Samarinda, Rezky Samudra Aprilian, mengatakan saat ini pihaknya telah menyerahkan sejumlah dokumen tambahan yang diminta BKJTK, termasuk hasil simulasi dan perhitungan rekayasa teknis.
"Senin ini kami sudah submit beberapa perhitungan yang diminta BKJTK. Proposal pengujian juga sudah siap, sekarang tinggal masuk ke tahap observasi awal dan pembahasan proposal," kata Rezky saat ditemui di ruangannya.
Menurut Rezky, proses tersebut menjadi tahapan penting sebelum tim penguji melakukan pengujian langsung di lapangan. Nantinya, tim UGM akan menentukan metode pengujian, termasuk titik pemasangan sensor yang akan digunakan untuk mengukur performa struktur terowongan.
Ia menjelaskan, proses itu sama halnya dengan sidang akademik, karena tim ahli dapat sewaktu-waktu meminta data tambahan maupun penjelasan teknis yang belum tercantum dalam dokumen awal. "Kita tidak pernah tahu apa saja yang akan diminta saat pembahasan, semua harus benar-benar siap," tuturnya.
Apabila proposal disetujui, tahapan berikutnya adalah pengujian lapangan menggunakan berbagai instrumen untuk mengukur kondisi struktur terowongan. Hasil pengujian tersebut selanjutnya akan dianalisis sebelum menjadi dasar penerbitan SLF.
Setelah pengujian, bilangnya, dibutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga minggu untuk mengolah seluruh hasil pengujian sebelum disimpulkan.
Namun, ia mengakui jadwal pengujian masih bergantung pada persetujuan BKJTK. Selama belum ada persetujuan terhadap proposal dan metode pengujian, proses uji lapangan belum dapat dilaksanakan.
Target penerbitan SLF masih diproyeksikan pada September 2026 mendatang. Setelah sertifikat tersebut diterbitkan, Terowongan Samarinda secara teknis dinyatakan layak untuk dioperasikan.
"Sekarang kami fokus menyelesaikan seluruh tahapan pengujian sesuai prosedur," pungkasnya.


