Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin
TANJUNG REDEB – Sejarah dan budaya bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi identitas yang harus diwariskan kepada generasi penerus.
Berangkat dari semangat itu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Berau menggelar bedah buku “Burakat Banua” karya Putri Aida Syafrisni di kantor Dispusip Berau.
Kegiatan tersebut menghadirkan akademisi, pegiat literasi, perangkat daerah, guru sejarah, komunitas budaya hingga masyarakat umum sebagai ruang bersama untuk menggali lebih dalam perjalanan sejarah dan kekayaan budaya Bumi Batiwakkal.
Kepala Dispusip Berau, Rabiatul Islamiah mengatakan buku Burakat Banua menjadi salah satu bentuk dokumentasi penting yang tidak hanya merekam perjalanan Kabupaten Berau, tetapi juga menjadi upaya pelestarian nilai-nilai budaya dan adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun.
“Berau memiliki kekayaan sejarah, adat istiadat, bahasa, budaya, hingga potensi alam yang luar biasa. Buku ini menjadi salah satu ikhtiar untuk mendokumentasikan sekaligus memaknai kembali nilai-nilai budaya tersebut agar tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya.
Menurutnya, bedah buku tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga wadah memperluas wawasan masyarakat mengenai sejarah lokal yang selama ini belum banyak terdokumentasi secara utuh.
Rabiatul berharap isi buku tersebut dapat menjadi referensi penting bagi pelajar, mahasiswa, peneliti hingga masyarakat yang ingin mengenal lebih dekat akar budaya Kabupaten Berau.
“Harapan kami, buku ini dapat menjadi sumber rujukan bagi siapa saja yang ingin memahami sejarah dan budaya Berau. Semakin banyak masyarakat mengenal akar budayanya, maka semakin kuat pula identitas daerah yang kita miliki,” katanya.
Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, Dispusip Berau, lanjut Rabiatul, tetap berkomitmen menghadirkan buku-buku berkonten lokal sebagai bagian dari upaya memperkaya koleksi literasi daerah.
Menurutnya, penerbitan buku lokal merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga memori kolektif masyarakat sekaligus menumbuhkan kebanggaan generasi muda terhadap daerahnya sendiri.
“Kami ingin generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya. Justru mereka harus bangga dan mampu mengembangkan budaya lokal menjadi kekuatan di masa depan,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi penulis serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan hingga terselenggaranya bedah buku tersebut.
“Semoga Burakat Banua menjadi awal lahirnya lebih banyak karya dokumentasi sejarah dan budaya Berau. Kami berharap semakin banyak penulis lokal yang terdorong untuk mendokumentasikan kekayaan daerah sehingga dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” tutupnya. (Adv)



